RSS
Write some words about you and your blog here

TUGAS 2 FONOLOGI BAHASA INDONESIA FKIP UIR 2E (RIKA AGUSTINA)

1. KASUS YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEGAGAPAN, KELUMPUHAN SARAF OTAK, AFASIA, DAN DISLEKSIA




1. Kegagapan
Apa Kegagapan itu?
Kegagapan adalah sebuah gangguan bicara pada seseorang dimana dia mengetahui apa yang ingin dikatakan tetapi pada saat tersebut dia tidak dapat mengatakannya.
Ketika banyak orang berpikir mengenai gagap, mereka memikirkan kata-kata atau bagian dari kata-kata yang diulang-ulang. Pengulangan ini terjadi pada kegagapan, tetapi anda kemudian menyadari bahwa terdapat hal lain yang ikut mempengaruhi. Kegagapan adalah masalah bicara yang kompleks, yang menyertakan banyak pola bicara yang berbeda dan gerakan tubuh yang menginterupsi aliran kata-kata. Berjuang untuk berbicara, cemas akan berbicara dan menghindari kata-kata dan situasi pembicaraan juga berhubungan dengan kegagapan.
Hal-hal yang memisahkan diri anda dengan orang-orang yang tidak gagap adalah suatu perasaan dimana anda tidak memiliki kendali atas bicara anda. Hal ini berarti bahwa ketika anda ingin berbicara, anda tidak bisa mengatakan apa yang ingin anda katakan.
Jenis-Jenis Kegagapan
Blocks atau tertahan : Terjadi ketika anda berhenti berbicara sebelum mengeluarkan suara atau ketika berbicara atau ketika mengucapkan sebuah kata. Hal ini terjadi karena aliran udara, suara, dan otot yang terlibat ketika berbicara tiba-tiba berhenti berkerja sama dan menjadi terhenti.
Pengulangan : Pengulangan terjadi ketika suara, silabel atau sebuah kata diucapkan berulang-ulang. Contohnya:
  • Pengulangan pada suara (p-p-p-pulpen)
  • Silabel (pup-pup-pup-pulpen)
  • Kata-kata (pulpen-pulpen-pulpen)
  • Kalimat (pulpennya-pulpennya-pulpennya warna biru)
Perpanjangan: Terjadi ketika anda memanjangkan suara pada saat di awal kata. contohnya: ‘s—–>aya’ atau di dalam kata, contohnya ‘sa—–>ya’. Suara dari aliran nafas keluar tetapi otot yang terlibat untuk menghasilkan kata-kata tidak dapat bergerak.
Berhenti ketika berbicara: Terjadi ketika diam dan bicara yang tidak terkendali. Jeda akan terjadi setelah kata-kata atau di dalam kata-kata.
Orang selalu melakukan sesuatu untuk menyembunyikan kegagapan mereka. Apakah anda melakukan salah satu hal ini?
  • Menghindari kata-kata tertentu, suara atau situasi percakapan – Untuk menyembunyikan kegagapan, anda menggunakan kata-kata lainnya, atau membuang beberapa kata tertentu, hingga gagapnya hilang. Anda mungkin akan menghindari situasi pembicaraan yang anda pikir akan membuat anda gagap, seperti pergi dengan teman atau memesan makanan di restoran.
  • Berjuang dan berusaha – anda mungkin memiliki perasaan tertekan pada beberapa bagian wajah atau tubuh anda, contohnya rahang, pipi, bibir, kepala dan dada anda.
  • Menggerakan bagian tubuh lainnya – Anda mungkin memajukan kepala kedepan dan kebelakang, menggerakkan lengan anda, kaki atau tangan, menutup atau mengedipkan mata anda atau bagian lain dari tubuh anda untuk membantu mengeluarkan suara.
  • Pernafasan yang terganggu dan tidak normal – Ketika anda menyadari akan gagap, anda mungkin akan menahan nafas anda, menarik beberapa nafas atau menunjukkan pola pernafasanyang tidak normal.
Apakah yang menyebabkan kegagapan?
Kegagapan adalah pada koordinasi pada bicara, bagaimanapun sebab yang sesungguhnya belum diketahui. Penelitian menunjukkan bahwa kegagapan terjadi di dalam keluarga.
Untuk bicara yang terkoordinasi, otak anda mengirim pesan kepada otot bicara anda dengan sangat cepat dan mereka meresponnya dengan bergerak sangat cepat. Jadi bagi anda yang berbicara lancar, otot bicara anda berkerja dengan baik. Berbicara membutuhkan urutan yang sangat spesifik dari koordinasi pada pergerakan otot. Bagi orang yang gagap, urutan ini terganggu.
Kegagapan adalah seperti aktifitas motorik lainnya seperti mengendarai sepeda. Ketika anda gembira, grogi atau lelah, mengendari sepeda tidak sebaik pada saat normal. Hal ini sama dengan kegagapan – dapat meningkat ketika orang tersebut letih, gembira, atau grogi.
Kapan kegagapan mulai muncul?
Kegagapan mulai muncul bisa secara bertahap atau tiba-tiba. Ketika pertama kali muncul, ukuran kegagapan bisa dari sedang hingga parah.
Kegagapan umumnya mulai ketika masa kanak-kanak diantara umur 2 dan 5 tahun.
Kegagapan umumnya muncul pada waktu ketika anak-anak mulai merangkaikan kata-kata. Pengulangan kata umumnya adalah tanda awal dari kegagapan pada hampir setiap anak, lebih lanjut tipe lain dari kegagapan mungkin juga muncul di awal.
Siapakah yang terkena efek kegagapan?
  • Hampir remaja putra tiga kali lebih banyak dari remaja putri dalam kegagapan.
  • Kegagapan terjadi pada semua kultur dan latar belakang.
Cara Mengatasi Kegagapan

Cara mengatasi anak gagap itu terletak pada cara kita berkomunikasi dengan si anak. Usahakan pada saat berbicara posisi kita sejajar dengan anak, dalam suasana tenang dan santai, serta sikap kita menunjukkan mau dan sabar mendengarkan dia berbicara, dan jangan terlalu memperhatikan kegagapannya yang membuat anak menyadari bahwa gagapnya itu adalah masalah besar, karena pada usia tertentu ada sebagian anak mengalami gagap dan kemudian hilang lagi. Jadi, dihadapan anak jangan terlalu membesar-besarkan kegagapannya, anak gagap itu suatu hal yang wajar, sehingga anak tidak merasa rendah diri. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi gagap yang muncul saat anak marah atau takut menghadapi orang tertentu, yaitu dengan menenangkan hati anak dengan mengatakan, “ibu/ayah tahu kamu sedang kesal (atau takut), coba bicara perlahan-lahan”. Ajak anak berbicara dalam tempo yang lambat, suruh ia menarik napas panjang saat emosinya masih menggebu-gebu. Seperti halnya penanggulangan yang dilakukan pada semua masalah, maka pada masalah gagap ini pun kita perlu mengetahui lebih dahulu penyebabnya. Berikut cara mengatasi anak gagap.
1) Pemaksaan menggunakan tangan kanan pada anak kidal yang disebabkan fungsi bagian otak kanan yang dominan. Yang perlu dilakukan oleh guru atau orang tua adalah membiarkan anak memakai tangan kirinya untuk melakukan semua aktivitasnya. Bila tetap dipaksa akan menyebabkan
gangguan pada bicara.
2) Anak yang introvert (bersifat tertutup). Biasanya bila akan mengadakan pembicaraan anak merasa cemas atau takut, sehingga kata-kata yang keluar tidak terkoordinasi dengan baik. Misalnya akan mengucapkan kata “ibu”. Posisi bibir sudah baik, yaitu kedua bibir sudah terbuka sedikit, namun sepi…..suara “ibu” tidak kunjung muncul. Begitu udara keluar, apa yang diucapkan tidak terkendali, yang terdengar, “iiibbb..bu”. Sewaktu suaranya tidak kunjung muncul, kita dapat melihat suatu ekspresi wajah yang memelas, seolah-olah pasrah pada keadaannya. Bila menghadapi anak gagap yang demikian, guru/orang tua sedapat mungkin berusaha mendengar apa yang akan diucapkan anak, tunggu sampai anak selesai berbicara, jangan memotong pembicaraan anak sewaktu anak belum selesai berbicara walaupun bicaranya terputus-putus. Bila guru mau mendengar apa yang dibicarakan anak, walaupun tidak sempurna, akan menimbulkan keberanian pada anak untuk berbicara dengan gurunya, dan makin lama kegagapannya akan makin berkurang, keberanian berbicara dengan guru ini akan dibawanya juga pada pembicaraannya dengan orang lain, apabila orang lain juga menunjukkan sikap seperti gurunya tersebut. Pada anak gagap yang disebabkan nervous, guru jangan sekali-kali membicarakan kesukaran berbicara yang dialami anak apabila anak yang bersangkutan ada di sekitarnya.
3) Pada gagap yang disebabkan karena fungsi fisiologis yang belum sempurna tidak perlu dikhawatirkan, sebab dengan makin bertambahnya usia anak, makin bertambah matang fungsi otot bicaranya, sehingga anak akan dapat berbicara dengan sempurna. Tetapi latihan tetap perlu diberikan, agar kesulitan anak berbicara dapat dihilangkan. Dalam kasus yang relatif ringan, sebaiknya kegagapan itu dibiarkan saja. Bila anak gagap, meskipun kita cemas janganlah memberi komentar terlalu banyak, sebab ini hanya akan memperdalam kesadaran diri anak, dan kecemasan yang ditimbulkannya tidak akan menolong. Bila kegagapan ini tampaknya sangat parah, maka bantuan seorang ahli terapi bicara akan sangat membantu. Ia akan mengadakan pemeriksaan menyeluruh terhadap masalahnya dan kemudian menawarkan suatu cara penyembuhan, termasuk teknik pengajaran untuk mengatasi kesulitan tersebut. Anak akan diajarkan bagaimana supaya dapat relaks dan tenang, dan dibantu menemukan jalan lain untuk menghindari halangan bicaranya.
Sebagian besar anak yang gagap dapat mengatasi kesulitannya pada saat mereka mencapai usia belasan. Bahkan dengan semakin canggihnya teknik penyembuhan, orang yang gagap sepanjang hidupnya dapat belajar mengatasi kesulitannya tersebut.
Pengaruh Kegagapan terhadap Perkembangan Bahasa
Gagap pada umumnya akan hilang pada usia remaja, tapi perlu ditangani sebaik mungkin agar gejala ini tidak menetap sampai usia dewasa. Dengan anak berbicara gagap akan terjadi pengulangan-pengulangan kata, kesalahan tata bahasa menjadi kebiasaan. Orang lain yang diajak bicara tidak akan bisa memahami apa yang telah mereka (anak gagap) bicarakan, karena semakin dia berbicara banyak akan semakin tidak jelas pembicaraannya. Anak yang mengalami gagap bicara dapat menimbulkan konsep diri dan perasaan rendah diri lama sebelum masa kanak-kanak berakhir.
Contoh Kasusu Kegagapan:
Seorang anak perempuan berumur 7 tahun, menderita gangguan berbicara sejak ia mulai masuk sekolah. Makin  lama makin gagap ia berbicara, sedangkan sebelumnya ia berbicara lancar. Dari penelitian itu terbukti , bahwa si anak adalah anak bungsu yang sangat di manja dalam keluarga. Semua perbuatannya di biarkan, tidak pernah di tegur dan kemauannya selalu dituruti.  Waktu akan masuk sekolah ia sangat gembira, tapi setelah merasakan sekolah beberapa hari ia mulai tidak mau pergi ke sekolah. Karena tidak ada guru yang memanjakannya di sekolah. Sekolah tidak seperti di rumah, ada peraturan dan tata tertib yang harus dipatuhinya, sehingga terasa olehnya bahwa sekolah itu kekangan dan siksaan baginya. Itulah sebabnya maka ia tidak mau pergi ke sekolah.
Atan tetapi, orang tua dan saudara-saudaranya yang dulu selalu menuruti segala kemauannya, sekarang selalu memaksanya supaya pergi ke sekolah, bahkan kadang-kadang memukulnya. Tak lama kemudian mulailah muncul gejala tersebut, ia mulai gagap yang makin lama makin bertambah.
Rupanya si anak sekaligus dihadapkan pada suasana yang berlainan dari yang biasa dihadapinya di rumah, disamping perubahan sikap orang tua dari memanjakan kepada kekerasan. Si anak tidak mampu menyesuaikan dirinya dengan suasana  itu, sehingga ia merasa sangat tertekan. Untuk itulah gejala gagap itu muncul, yang menolongnya dalam menghadapai kesukaran dan pula sebagai cara untuk manarik perhatian.


Sumber
http://berkomunikasi.com/tag/kegagapan/
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/05/cara-mengatasai-gagap-bicara-pada-anak/
Rusda dan Deliana, Sri Maryati. 1994. Permasalahan Anak Taman Kanak-Kanak: UPT MKK UNNES



2.Kelumpuhan Otak
Lumpuh otak (bahasa Inggris: cerebral palsy, spastic paralysis, spastic hemiplegia, spastic diplegia, spastic quadriplegia, CP) adalah suatu kondisi terganggunya fungsi otak dan jaringan saraf yang mengendalikan gerakan, laju belajar, pendengaran, penglihatan, kemampuan berpikir.[1]
Penyebab lumpuh otak sampai saat ini belum dapat dipastikan,[2] banyak orang beranggapan bahwa CP disebabkan oleh karena:
·         Bayi lahir prematur sehingga bagian otak belum berkembang dengan sempurna.
·         Bayi lahir tidak langsung menangis sehingga otak kekurangan oksigen saat dalam kandungan (bahasa Inggris: hypoxia)
·         Adanya cacat tulang belakang dan pendarahan di otak.
Jenis-jenis lumpuh otak
Secara umum lumpuh otak dikelompokkan dalam empat jenis yaitu:
·         Spastik (tipe kaku-kaku) dialami saat penderita terlalu lemah atau terlalu kaku. Jenis ini adalah jenis yang paling sering muncul. Sekitar 65 persen penderita lumpuh otak masuk dalam tipe ini.
·         Atetoid terjadi dimana penderita yang tidak bisa mengontrol gerak ototnya, biasanya mereka punya gerakan atau posisi tubuh yang tidak biasa.
·         Kombinasi adalah campuran spastic dan athetoid.
·         Hipotonis terjadi pada anak-anak dengan otot-otot yang sangat lemah sehingga seluruh tubuh selalu terkulai. Biasanya berkembang menjadi spastic atau athetoid.
Lumpuh otak juga bisa berkombinasi dengan gangguan epilepsi, mental, belajar, penglihatan, pendengaran, maupun bicara.
Ciri-ciri:
Gejala lumpuh otak sudah bisa diketahui saat bayi berusia 3-6 bulan, yakni saat bayi mengalami keterlambatan perkembangan.
Ciri umum dari anak lumpuh otak adalah:
·         Perkembangan motorik yang terlambat.
·         Refleks yang seharusnya menghilang tapi masih ada seperti:
·         Refleks menggenggam hilang saat bayi berusia 3 bulan
·         Bayi yang berjalan jinjit atau merangkak dengan satu kaki diseret

Terapi:.
Sampai saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan lumpuh otak. Namun tetap ada harapan untuk mengoptimalkan kemampuan anak lumpuh otak dan membuatnya mandiri dengan terapi.
Terapi yang diberikan pada penderita lumpuh otak akan disesuaikan dengan:
·         Usia anak
·         Berat/ ringan penyakit
·         Menimbang dari area pada otak mana yang rusak.
Meski ada bagian otak yang rusak, namun sel-sel yang bagus akan menutupi sel-sel yang rusak, dengan cara mengoptimalkan bagian otak yang sehat seperti pemberian rangsangan agar otak anak berkembang baik. Rangsangan/ stimulasi otak secara intensif bisa dilakukan melalui panca indera. Salah satu cara adalah dengan Compensatory Dendrite Sprouting yaitu rangsangan agar dendrittersebar dengan berimbang.
Beberapa orangtua yang memiliki anak penderita lumpuh otak mengaku berhasil mengoptimalkan kemampuan anaknya lewat metodeGlenn Doman . Metode ini digunakan untuk anak dengan cedera otak berupa patterning (pola) untuk melatih :
·         Gerakan kaki dan tangan (merayap, merangkak)
·         Menghirup oksigen (masking) untuk melatih paru-paru agar membesar.
Sejak tahun 1998, lebih dari 1700 anak cedera otak mengalami perbaikan cukup berarti setelah melakukan terapi ini.

Contoh:
1. apabila kondisi ini disebabkan oleh infeksi, menangani infeksi akan secara umum memperbaiki gejala-gejala. Pada beberapa kasus, kelopak mata yang lunglai dan penglihatan buram akan menetap meskipun telah ditangani. Akan tetapi, akbat seperti tadi dapat dicegah dengan diagnosis dan penanganan dini oleh seorang dokter.

2. POLIOMIELITIS ANTERIOR AKUTA


Salah satu diantara penyakit saraf tepi yang populer adalah polio yang nama selengkapnya adalah poliomielitis anterior akuta. Sesuai namanya bagian yang terkena sebenarnya adalah mielum bagian anterior yang disebut juga kornu anterior sehingga lesi yang ditimbulkan berupa kelumpuhan tipe perifer karena inti sel saraf di kornu anterior mengalami nekrosis. Akibatnya adalah serabut saraf yang terkena terutama aksonnya tidak berfungsi lagi dan otot yang dipersarafi lama kelamaan (dan proses berlangsung cepat) menjadi atrofi. Otot yang atrofi menjadi kecil dan ekstremitas memerlukan bantuan alat untuk dapat berfungsi kembali.

Tidak ada terapi khusus pada polio sehingga terapi pada penyakit ini lebih bersifat suportif.
Hindari menggunakan terapi suntik pada penderita yang panas saat epidemi polio sedang berjangkit (outbreak) karena akan memicu lebih banyak sel saraf yang mati. Kehati-hatian ini juga menjadi penting karena makin banyaknya kegiatan sueing di tengah masyarakat. Pencegahan penyakit ini adalah dengan melaksanakan vaksinasi polio di masyarakat.


Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Lumpuh_otak
http://nurlaily.wordpress.com/2009/12/25/penyakit-saraf-tepi-otot-by-achdiat-agoes-3/

3. Aphasia. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan hilangnya kemampuan berbahasa seseorang karena adanya gangguan pada sistem syaraf pusat. Gangguan ini dapat disebabkan oleh cidera pada kulit otak yang terjadi karena kecelakaan, benturan yang keras, atau stroke. Gangguan ini bersifat multi dimensi, sehingga kemampuan menggunakan atau menguasai simbol seolah-olah lenyap. Parahnya ketidakmampuan yang diakibatkan bergantung dari letak cidera atau luka, umur serta kondisi kesehatan ketika terjadinya cidera tersebut. Aphasia banyak jenisnya, paling tidak dapat diklasifikasikan kedalam 4 jenis, yaitu:
a. Aphasia Sensoris atau (aphasia reseptif, fluent aphasia, word deafness, wernickes aphasia). Yaitu mengalami kesulitan dalam memberi makna rangsangan yang diterimanya.
b. Aphasia motoris atau (aphasia ekspresif, broca aphasia), yaitu mengalami kesulitan dalam mengkoordinasikan atau menyusun pikiran, perasaan dan kemauan menjadi symbol-simbol yang bermakna dan dimengerti oleh orang lain.
c. Aphasia konduktif atau (dynamic aphasia, transcorticak sensory aphasia), yaitu megalami kesulitan dalam meniru pengulangan bunyi-bunyi bahasa.
d. Aphasia Amnesic atau nominal aphasia atau anomia, yaitu kesulitan dalam memilih dan menggunakan symbol-simbol yang tepat (Tarmansyah, 1995., p. 94)

Contoh Kasus Aphasia:
 Di usia yang terhitung belia, David Dow, 10, dari Madison, Ohio, Amerika Serikat, telah mengalami stroke. Stroke yang terjadi pada 1995 ini disebabkan adanya kelainan genetik langka yang menyumbat pembuluh darahnya. Pembuluh darah akhirnya pecah dan membuat David terkena stroke. Melalui dua operasi, David pun bisa lolos dari serangan stroke tersebut. Namun, dia mengalami afasia atau kesulitan bicara pascastroke. Tentu saja, kondisi ini membuat David kurang percaya diri. Beruntung, ibu dan ayah tirinya sangat mendukung dan memberi semangat kepada David. Begitu juga dengan teman-teman di sekolahnya yang memberikan dukungan agar David tidak minder dengan afasia yang dialaminya.

Sumber:
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195705101985031-ENDANG_RUSYANI/KESULITAN-BELAJAR_BAHASA.pdf.
http://health.okezone.com/read/2012/01/19/482/559712/jangan-minder-karena-afasia


4. Dyslexia. Gangguan ini berkaitan dengan hilangnya kemampuan untuk membaca. Gangguan ini terjadi karena tidak berfungsinya secara normal syaraf yang berhubungan atau yang mengatur kemampuan membaca. Dyslexia sering disebut sebagai ”word blindness” (kebutaan akan kata-kata) karena penderita seolah-olah tidak mengenal kata-kata yang dibacanya. Gangguan ini mencakup berbagai variasi dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda, dari yang paling ringan sampai yang paling parah. Hakikat dyslexia terletak pada kebingungan dan kesulitan yang dialami seseorang selama karena ia seolah-olah tidak mengenal bunyi, arti, ataupun ejaan dari kata yang dilihatnya (Ramma, S., 1993)
contoh kasus gangguan Dyslexia :
Sebut saja namanya Denny, bocah berusia delapan tahun. Di sekolah, anak ini tidak hanya lincah, tetapi juga mudah bergaul dengan siapa saja. Namun Denny sering membuat ayah dan ibunya bingung karena tingkah-laku dan cara berpikir yang berbeda. Denny memiliki sikap pelupa, tidak suka membaca, sulit mengeja, dan lemah memahami konsep dalam subjek matematika dan sering tidak memahami apa yang dibacanya. 
      Orangtua Denny mendapat laporan dari guru bahwa anak itu sulit menghafal abjad, susah menghafal nama hari sesuai urutannya, dan sulit menulis. Abjad ditulisnya tidak sesuai dengan pembentukan benar. Dia juga sering keliru menulif huruf b dan d, p dan q. Huruf z, j, dan g, sering ditulis terbalik. Akhirnya Denny belum dapat membaca dengan lancar, meskipun sudah naik kelas. Tetapi di balik itu, dia fasih berbicara dan sering memberikan ide menarik. Ia lebih senang mendengar cerita yang dibacakan guru, dibanding membaca. 
      Suatu ketika ketika ditanya kenapa ia tidak mau membaca, Denny mengatakan saat membuka buku ia melihat huruf yang ada di dalamnya campur-aduk, sehingga kata-katanya tidakjelas. AkhirnyadiketahuiDennymengalamidisleksia. 
Belajar dari pengalaman Denny, biasanya sebagian orangtua gemas ketika melihat anaknya lamban, terutama saat membaca dan menulis. Orangtua umumnya langsung mengklaim anaknya memiliki kekurangan inteligensia. Padahal ketika si anak kesulitan dengan kata-kata, baik saat membaca atau menulis, serta menerangkan sesuatu, kemungkinan si anak mengalami disleksia.

Sumber:
http://ryaneducationforall.blogspot.com/2011/10/makalah-tentang-anak-berkesulitan.html
http://felinophobia.blogspot.com/2009_09_01_archive.html

2. KEKERABATAN BAHASA INDONESIA 
(kekerabat bahasa aceh dengan bahasa sunda)

Indonesia merupakan bangsa yang paling kaya akan bahasa. Hal ini dapat terjadi karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang letaknya tersebar antara 6 derajat LU—11 derajat LS dan 95 derajat BT—141 derajat BT. Kondisi geografis yang demikian itu memengaruhi keadaan penduduknya menjadi beraneka ragam, baik dari jenis suku bangsa, budaya, agama, maupun bahasa. Bahasa (daerah) yang ada pada satu provinsi mungkin memiliki perbedaan dengan provinsi lainnya. Bahkan, bahasa yang terdapat di satu wilayah dapat saja berbeda dengan wilayah lainnya walaupun masih dalam satu provinsi, seperti yang terdapat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Walaupun demikian, di antara bahasa (daerah) tertentu terdapat juga beberapa kosakata yang memiliki unsur persamaan, baik dari segi makna maupun bentuk, misalnya antara bahasa Aceh dan bahasa Sunda. Untuk itu, pada kesempatan ini penulis mengajak pembaca untuk mengamati “kekerabatan” antara bahasa Aceh dan bahasa Sunda.
Penulis sempat membuka kamus Aceh-Indonesia-Inggris: Kamuih Aceh Indonesia-Inggreh & English Indonesia-Achenese Dictionary yang diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh Tahun 2000. Beberapa kosakata bahasa Aceh dalam kamus tersebut memiliki bentuk yang sama dengan bahasa Sunda. Bahkan, terdapat juga kosakata bahasa Aceh yang memiliki makna sama dengan bahasa Sunda. Selain itu, beberapa kosakata bahasa Aceh dan bahasa Sunda juga memiliki persamaan dalam bunyi fonem. Dalam bahasa Aceh dan bahasa Sunda terdapat fonem /eu/ yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia.
Jika kita perbandingkan secara linguistik, persamaan beberapa kosakata bahasa Aceh dan bahasa Sunda tersebut dikenal dengan istilah bersinonim dan berhomonim. Sinonim adalah bentuk bahasa yang maknanya mirip atau sama dengan bentuk lain. Sementara itu, homonim adalah kata yang sama lafal atau ejaannya, tetapi berbeda maknanya karena berasal dari sumber yang berlainan. Untuk mendeskripsikan kata yang bersinonim dan berhomonim, data kata yang akan diungkapkan dalam tulisan ini adalah kata dasar atau kata yang belum mendapat pengimbuhan, pengulangan, dan pemajemukan. Berikut ini data kesinoniman dan kehomoniman antara kosakata bahasa Aceh dan bahasa Sunda.
Kesinoniman antara kosakata bahasa Aceh dengan bahasa Sunda terdiri atas kata benda, kata kerja, kata penghubung, dan kata sifat.
1. Kata benda adalah kata yang menyatakan benda seperti manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, atau penyebutan nama suatu benda. Kata benda bahasa Aceh yang memiliki kesamaan bentuk dan makna (bersinonim) dengan bahasa Sunda adalah (1) bandera ‘bendera’; (2) baki ‘nampan’; (3) basa ’bahasa’; (4) cet ’cat’; (5) conto ’contoh’; (6) guha ’goa’; (7) jagong ’jagung’; (8) mantega ’mentega’; (9)ma ’ibu’. (10) babu ’pembantu’ (11) pilar ’tiang’; (13) pentilasi ’lubang hawa’; dan (14) papiliun ‘anjungan’.
2. Kata kerja adalah kata yang menyatakan perbuatan, tindakan, atau gerakan. Beberapa kata kerja bahasa Aceh yang bersinonim dengan bahasa Sunda yaitu: (1) garo ’garuk’; (2) mabok ‘mabuk’; (3) meunang ’menang’; dan (4) sogok ’suap’.
3. Kata penghubung adalah kata yang menghubungkan kata dengan kata, frasa dengan frasa, atau kalimat dengan kalimat. Kata penghubung bahasa Aceh yang bersinonim dengan bahasa Sunda yaitu (1) atawa ’atau; dan (2) sabab ’sebab’.
4. Kata sifat adalah kata yang menyatakan sifat atau keadaan suatu benda. Kata sifat dalam bahasa Aceh juga ada yang bersinonim dengan bahasa Sunda, yaitu (1)sangsara ’sengsara’ dan (2) butak ’botak’.
Selain memiliki persamaan bentuk dan makna (bersinonim), terdapat juga kosakata bahasa Aceh dan bahasa Sunda yang berhomonim atau memiliki persamaan bentuk tetapi berbeda maknanya. Kehomoniman antara kosakata bahasa Aceh dengan bahasa Sunda dapat dilihat dari data kata berikut. (1) Awakdalam bahasa Aceh berarti ‘orang’; dalam bahasa Sunda berarti ‘tubuh’. (2)Beukah dalam bahasa Aceh berarti ‘robek/pecah’; dalam bahasa Sunda berarti ‘mengembang’. (3) Aki dalam bahasa Aceh berarti ‘kaki’; dalam bahasa Sunda berarti ‘kakek’. (4) Kueh dalam bahasa Aceh berarti ‘gali/menggali’; dalam bahasa Sunda berarti ‘kue’ (5) Bako dalam bahasa Aceh berarti ‘sangat ahli’; dalam bahasa Sunda berarti ‘tembakau’. (6) Bibi dalam bahasa Aceh berarti ‘bibir’; dalam bahasa sunda berarti ‘adik perempuan dari orang tua kita’. (7)Cabok dalam bahasa Aceh berarti ‘borok’; dalam bahasa Sunda berarti ‘tampar’. (8) Cabak dalam bahasa Aceh berarti ‘lasak/agesif’; dalam bahasa Sunda berarti ‘raba’. (9) Lila dalam bahasa Aceh berarti ‘ungu (warna)’; dalam bahasa Sunda berati ‘lama’. (10) dan (11) Galak dalam bahasa Aceh berarti ‘suka’; dalam bahasa Sunda berarti ‘buas’.
Dari segi penulisan dan pengucapan sebuah kata, bahasa Aceh memiliki persamaan dengan bahasa Sunda, yaitu persamaan dalam bunyi vokal rangkap /eu/ yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Aceh misalnya terdapat kata kaleuh ‘sudah’, keude ‘warung’, aneuk ‘anak’, ceudah ‘pintar’, dankeueung ‘pedas’. Sementara itu, contoh vokal rangkap /eu/ dalam bahasa Sunda misalnya deuleu ‘lihat’, kadieu ‘kesini’, beungeut ’muka’, ceuli ‘telinga’, dan seungit‘harum’.
Berdasarkan data tadi, jelas dapat dilihat bahwa beberapa kosa kata bahasa Aceh dan bahasa Sunda bersinonim, berhomonim, dan memiliki persamaan bunyi vokal rangkap /eu/. Penulis belum meneliti gejala tersebut apakah karena unsur kebetulan semata atau memang adanya hubungan kekerabatan yang sangat dekat antara bahasa Aceh dan bahasa Sunda. Namun, satu hal yang perlu diingat bahwa bahasa Aceh dan bahasa Sunda tergolong ke dalam rumpun bahasa austronesia. Bahasa Aceh dan bahasa Sunda termasuk dalam bagian bahasa-bahasa nusantara barat.
Walaupun beberapa kosakata bahasa Aceh dan bahasa Sunda memiliki persamaan, tetapi sistem pemakaiannya belum tentu sama karena setiap bahasa memiliki tatabahasa tersendiri. Satu hal yang penting yang patut kita banggakan adalah persamaan dan perbedaan bahasa daerah dapat memperkaya bahasa nasional. Selain itu, perbedaan bahasa antardaerah tidak akan menjadi sebuah masalah ketika berkomunikasi karena kita memiliki bahasa nasional dan bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia.


Sumber:
http://www.balaibahasajabar.web.id/bli/index.php/artikel/121-kekerabatan-bahasa-aceh-dan-bahasa-sunda-?format=pdf

  

0 komentar:

Posting Komentar