
MEDIA PEMBELAJARAN DAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
BAHASA INDONESIA
OLEH
KELOMPOK 2 :
1. NURHAYATI
2. RAHMA HAYATI ARIF
3. RIKA AGUSTINA
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
2014/2015
BATANG TUAKA
(cerita rakyat dari
Indragiri, Riau).
Pada masa dahulu, di tanah Indragiri hiduplah seorang wanita
bersama dengan seorang anak laki-lakinya
bernama Tuaka. Mereka berdua hidup di sebuah gubuk tua yang berada di daerah
muara sungai. Ayah Tuaka telah lama meninggal, dan kedua anak dan ibu tersebut
saling menyayangi. Tuaka selalu membantu ibunya untuk menghidupi keluarga.
Mereka kerap pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar dan kemudian dijual di
kota.
Pada suatu ketika, saat pulang dari
hutan untuk mencari kayu bakar, Tuaka dan ibunya melihat dua ekor ular yang
besar sedang berkelahi. Mereka
pun cepat berlindung untuk bersembunyi. Setelah diamati, rupanya perkelahian
antara dua ekor ular tersebut sedang memperebutkan sebutir permata. Akhirnya,
salah seekor dari ular tersebut mati terbunuh. Sementara seekor yang masih
hidup tubuhnya penuh dengan luka-luka. Tuaka dan ibunya kemudian membawa ular
yang masih hidup tersebut dan merawat lukanya untuk disembuhkan.
Beberapa hari kemudian, ular tersebut pun sembuh dan
menghilang begitu saja dari rumah Tuaka. Ia meninggalkan sebutir permata di
dalam keranjang. Tuaka dan ibunya terheran-heran menyaksikan keindahan dari
permata yang ditinggalkan tersebut.
“Mengapa ular itu meninggalkan permatanya ya, Mak?” tanya
Tuaka kepada ibunya.
“Mungkin ia ingin mengucapkan terimakasih kepada kita. Sebaiknya permata itu kita jual saja dan hasilnya kita gunakan untuk mengembangkan perdagangan.” Sahut Ibu Tuaka penuh rasa syukur. Akhirnya Tuaka pun menjual permata tersebut. Ia menjual permata itu kepada seorang saudagar dengan harga yang sangat tinggi. Sampai-sampai uang saudagar tersebut tidak cukup untuk membayarnya secara lunas. Akhirnya, Tuaka pun diajak ke Temasik untuk menjemput semua uang dari hasil penjualan permata tersebut. Setelah berpamitan dengan ibunya, Tuaka pun ikut saudagar tersebut ke daerah Temasik (Singapura).
“Mungkin ia ingin mengucapkan terimakasih kepada kita. Sebaiknya permata itu kita jual saja dan hasilnya kita gunakan untuk mengembangkan perdagangan.” Sahut Ibu Tuaka penuh rasa syukur. Akhirnya Tuaka pun menjual permata tersebut. Ia menjual permata itu kepada seorang saudagar dengan harga yang sangat tinggi. Sampai-sampai uang saudagar tersebut tidak cukup untuk membayarnya secara lunas. Akhirnya, Tuaka pun diajak ke Temasik untuk menjemput semua uang dari hasil penjualan permata tersebut. Setelah berpamitan dengan ibunya, Tuaka pun ikut saudagar tersebut ke daerah Temasik (Singapura).
Setibanya di Temasik, saudagar tersebut pun membayarkan uang
penjualan permata tersebut kepada Tuaka. Uang yang diperoleh sangat banyak dan
berlimpah, sampai-sampai Tuaka lupa untuk kembali pulang ke kampung menemui
ibunya. Ia pun berdagang di Temasik sampai kemudian ia berhasil mengembangkan
usahanya dan menjadi seorang pengusaha kaya raya. Rumahnya sangat megah, ia
memiliki banyak kapal dan mempunyai istri yang cantik. Ia sudah melupakan
ibunya yang miskin dan tinggal di kampung halaman.
Pada suatu ketika, Tuaka mengajak istrinya berlayar
menggunakan kapal yang megah ke suatu tempat. Sampai kemudian ia tiba dikampung
halamannya. Akan tetapi, Tuaka tidak menceritakan kepada istrinya mengenai
kondisinya yang sebenarnya di kampung halaman. Ia malu dengan keadaan ibunya
yang sudah tua dan miskin. Kabar kedatangan Tuaka ke kampung halamannya
tersebut pun terdengar oleh sang ibu. Ibunya bergegas ingin menemui Tuaka. Ia
mengayuh sampan dan mendekati kapal besar milik Tuaka.
“Tuaka anakku. Emak merindukanmu, nak,” teriak emak dari
sampan.
“Siapa gerangan wanita tua itu,” tanya istri Tuaka. Tuaka yang malu mengetahui emaknya yang tua dan miskin datang ke kapal megahnya, pura-pura tidak mengenalinya.
“Siapa gerangan wanita tua itu,” tanya istri Tuaka. Tuaka yang malu mengetahui emaknya yang tua dan miskin datang ke kapal megahnya, pura-pura tidak mengenalinya.
“Hei penjaga, jauhkan wanita tua miskin itu dari kapalku.
Dasar orang gila tak tahu diri! Beraninya dia mengaku sebagai emakku,” teriak
Tuaka.
Emak Tuaka pun pergi menjauh dengan sedih. “Oh Tuhan...
ampunilah dosa Tuaka karena telah durhaka kepadaku. Berilah dia peringatan agar
menyadari kesalahannya,” ratap Emak Tuaka. Rupanya Tuhan mendengar ratapan emak
Tuaka. Tiba-tiba Tuaka berubah menjadi seekor elang dan istrinya menjadi seekor
burung punai. Emak Tuaka terkejut dan juga sedih melihat anaknya berubah
menjadi burung elang, karena emak pun masih menyayangi anaknya tersebut. Burung
elang dan burung punai itu pun terus berputar-putar sambil menangis di atas
emak Tuaka. Air mata kedua burung itu terus menetes dan membentuk sungai kecil
yang semakin lama semakin besar. Sungai itu kemudian diberi nama Sungai Tuaka
(Batang Tuaka).

Penjelasan Media Pembelajaran yang dibuat oleh Kelompok 2 :
1. Nama Kelompok :
2. Anggota :
a. Nurhayati (136210938)
b. Rahma Hayati Arif (136211421)
c. Rika Agustina (136211419)
3. Nama media : Monopoly Batang
Tuaka
4. Bahan-bahan pembuatan media
a. Kardus bekas
b. Arang kayu dan arang tempurung
c. Nasi sebagai lem
d. Sampul buku tulis bekas
e. Daun nangka
f. Lidi
g. Batu kerikil
h. Lem kertas
i.
Tali
raffia bekas
j.
Koran
bekas
k. Kalender
l.
Tanah
liat
m. Botol minuman bekas
n. Kotak makanan ringan
5. Alat-alat:
1. Gunting
2. Pisau
6. Langkah-langkah :
a. Membuat papan monopoli, gunting kardus berukuran besar kemudian beri garis
untuk membuat kotak yang terdiri dari masing-masing enam kotak pada bagian atas
dan bagian bawah.
b. Membuat kartu sebanyak 25 buah terdiri dari 15 kartu pertanyaan dan 10
kartu hukuman.
c. Membuat dadu menggunakan tanah liat dengan cara membuat sebuah bentuk
bangunan kotak dan memberi titik-titik besar yang melambangkan angka pada dadu,
kemudian di jemur di bawah sinar matahari sampai mengeras.
d. Membuat kepala bernomor dari daun nangka dan disambungkan setiap daun
menggunakan lidi. Kepala bernomor ini akan dipakai oleh peserta yang mengikuti
pelajaran.
e. Membuat bintang dari karton bekas makanan ringan sebagai reword atau
penghargaan bagi peserta yang bisa menjawab pertanyaan. Bintang berwarna merah
sebagai tanda peserta tidak bisa menjawab pertanyaan. Bintang berwarna putih
atau silver diibaratkan sebagai perak sebagai tanda bahwa peserta menjawab
kurang tepat atau benar setengah saja, sedangkan bintang berwarna kuning
diibaratkan sebagai emas sebagai tanda bahwa peserta dapat menjawab pertanyaan
dengan tepat dan sempurna.
7. Sasaran Pembelajaran:
Untuk siswa
kelas V Sekolah Dasar
8. Materi:
Mendengarkan
cerita rakyat.
9. Langkah –langkah penerapan :
a. Peserta terdiri dari tiga orang yang masing-masingnya akan mendapatkan
nomor di kepalanya yang terbuat dari daun nangka yang dihubungkan dengan lidi.
b. Setiap peserta akan mendapatkan sebuah batu kerikil sebagai tanda dimana
letak posisi mereka saat bermain monopoly.
c. Peserta akan mendapat giliran yang sama untuk mengocok dadu dimulai dari
start kemudian menjalankan batu sesuai angka yang keluar dari dadu.
d. Saat itu kita sudah mengetahui dimana posisi batu kita berada, apakah ada
di kotak pertanyaan, hukuman atau dialihkan ke kotak lain.
e. Setiap peserta wajib menjawab pertanyaan dan menjalankan hukuman sesuai
kartu yang peserta ambil di bagian tengah kotak monopoly.
f. Permainan akan berlangsung kurang lebih 20 menit sebagai batas untuk
mengetahui siapa peserta yang mendapatkan point tertinggi dilihat dari
perolehan bintang berwarna kuning atau bintang emas.
10. Kelebihan:
Mengubah pola
piker siswa bahwa permainan monopoly yang identik dengan uang juga bisa
digunakan sebagai media pembelajaran.
11. Kekurangan:
Tidak bisa
membuat media pembelajaran dengan budget 0 rupiah.
12. Anggaran:
Rp 1.000 untuk
pembelian lem.
Foto proses pembuatan media pembelajaran



0 komentar:
Posting Komentar