RSS
Write some words about you and your blog here

METAKOGNITIF PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Belajar adalah proses mental yang aktif untuk mendapatkan, mengingat, dan menggunakan pengetahuan. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya.Belajar merupakan perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku yang tampak. Belajar adalah aktivitas yang melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks dan saling berhubungan dengan seluruh konteks situasi tersebut. Memisah-misahkan atau membagi-bagi situasi/materi pelajaran menjadi komponen-komponen yang kecil-kecil dan mempelajarinya secara terpisah-pisah akan kehilangan makna. Teori ini berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi dan aspek-aspek kejiwaan lainnya.
Pemerintah selalu memperbaharui kurikulum dengan tujuan untuk mem-perbaiki kualitas pendidikan dan pembelajaran di Indonesia.Pembaharuan yang telah dilakukan, di antaranya penyempurnaan Kurikulum Sekolah Menengah Atas Tahun 2004 (Depdiknas, 2003). Pembelajaran selama ini belum membelajarkan siswa memiliki kemampuan berpikir untuk menyadari apa yang telah dipelajari, memberdayakan siswa berpikir kreatif dan antusias serta termotivasi untuk mengetahui objek belajarnya melalui pelibatan aktif belajar, baik memecahkan masalah nyata dalam kehidupannya, maupun merangsang siswa untuk selalu tanggap terhadap permasalahan yang ada di ling-kungan sekitarnya (Winarno, Susilo, dan Soebagio, 2000). Peningkatan kemam-puan metakognitif secara signifikan merupakan efek yang dihasilkan dari pem-belajaran, baik pada diri siswa, lembaga maupun masyarakat, karena itu perlu dipertimbangkan strategi pembelajaran yang berpotensi untuk mengungkap kemampuan metakognitif.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana sejarah metakognitif?
2.      Apa yang dimaksud dengan teori metakognitif?
3.      Bagaimana strategi perkembangan metakognitif?
4.      Bagaimana perkembangan kemampuan metakognitif anak?

C.     Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui sejarah metakognitif
2.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan teori metakognitif
3.      Untuk mengetahui bagaimana strategi perkembangan metakognitif
4.      Untuk mengetahui bagaimana perkemabangan kemampuan metakognitif anak.

















BAB II
PEMBAHASAN

Metakognitif
A.    Sejarah Kognitif
John Flavell (1976) mula memperkenalkan istilah metakognisi yang ditafsirkan sebagai "pengetahuan seseorang tentang proses kognitifnya". Dia membahagikan metakognisi kepada 3 variabel:
1.      Variabel Individu - mengetahui bahawa kita semua adalah organisme kognitif atau pemikir; iaitu, segala tindak-tanduk kita adalah akhibat daripada cara kita berfikir. Variabel Individu dibahagikan kepada:
a)      Variabel intra-individu
b)      Variabel antara-individu
c)      Variabel universal
2.      Variabel Tugas - mengetahui keperluan, kesan dan kekangan sesuatu tugas kognitif. m.s. sekiranya maklumat yang disampaikan oleh pensyarah adalah sukar dan tidak akan diulangi, kamu tentu akan memberi lebih perhatian dan mendengar dengan memproses maklumat itu dengan lebih teliti.
3.      Variabel Strategi - pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu atau mengatasi kesulitan yang timbul, iaitu, bagaimana mencapai matlamat. Kamu tahu melakukan 'pemantauan kognitif' ('cognitive monitoring'). 

B.     Pengertian Metakognisi
Metakognisi merupakan suatu istilah yang diperkenalkan oleh Flavell pada tahun 1976 dan menimbulkan banyak perdebatan pada pendefinisiannya. Hal ini berakibat bahwa metakognisi tidak selalu sama didalam berbagai macam bidang penelitian psikologi, dan juga tidak dapat diterapkan pada satu bidang psikologi saja. Namun demikian, pengertian metakognisi yang dikemukakan oleh para peneliti bidang psikologi, pada umumnya memberikan penekanan pada kesadaran berpikir seseorang tentang proses berpikirnya sendiri. Gredler (2011)
Wellman (1985) menyatakan bahwa: Metakognisi adalah suatu bentuk kognisi, proses berpikir urutan kedua atau lebih tinggi yang melibatkan kontrol aktif atas proses kognitif. Hal ini dapat hanya didefinisikan sebagai berpikir tentang berpikir atau “kognisi seseorang tentang kognisi” Metakognisi sebagai suatu bentuk kognisi, atau proses imunisasi meliputi tingkat berpikir yang lebih tinggi, melibatkan pengendalian terhadap aktivitas kognitif.
Flavell & Brown dalam menyatakan bahwa metakognisi adalah pengetahuan (knowledge) dan regulasi (regulation) pada suatu aktivitas kognitif seseorang dalam proses belajarnya. Sedangkan Moore (2004) menyatakan bahwa: Metakognisi mengacu pada pemahaman seseorang tentang pengetahuannya, sehingga pemahaman yang mendalam tentang pengetahuannya akan mencerminkan penggunaannya yang efektif atau uraian yang jelas tentang pengetahuan yang dipermasalahkan. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan-kognisi adalah kesadaran seseorang tentang apa yang sesungguhnya diketahuinya dan regulasi-kognisi adalah bagaimana seseorang mengatur aktivitas kognisifnya secara efektif. Karena itu, pengetahuan-kognisi memuat pengetahuan deklaratif, prosedural, dan kondisional, sedang regulasi-kognisi mencakup kegiatan perencanaan, prediksi, monitoring (pemantauan), pengujian, perbaikan (revisi), pengecekan (pemeriksaan), dan evaluasi.
Berdasarkan beberapa pengertian metakognitif beberapa ahli di atas disimpulkan bahwa metakognitif adalah suatu kesadaran tentang kognitif kita sendiri, bagaimana kognitif kita bekerja serta bagaimana mengaturnya.Kemampuan ini sangat penting terutama untuk keperluan efisiensi penggunaan kognitif kita dalam menyelesaikan masalah.Secara ringkas metakognitif dapat diistilahkan sebagai “thinking about thingking”.

a)      Menurut Suherman et.al. (2001 : 95), metakognitif adalah suatu kata yang berkaitan dengan apa yang diketahui tentang dirinya sebagai individu yang belajar dan bagaimana dia mengontrol serta menyesuaikan prilakunya. Seseorang perlu menyadari kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Metakognitif adalah suatu bentuk kemampuan untuk melihat pada diri sendiri sehingga apa yang dia lakukan dapat terkontrol secara optimal. Dengan kemampuan seperti ini seseorang dimungkinkan memiliki kemampuan tinggi dalam memecahkan masalah, sebab dalam setiap langkah yang dia kerjakan senantiasa muncul pertanyaan : “Apa yang saya kerjakan ?”; “Mengapa saya mengerjakan ini?”; “Hal apa yang membantu saya untuk menyelesaikan masalah ini?”.
b)     Flavel (Jonassen, 2000 : 14) memberikan definisi metakognitif sebagai kesadaran seseorang tentang bagaimana ia belajar, kemampuan untuk menilai kesukaran sesuatu masalah, kemampuan untuk mengamati tingkat pemahaman dirinya, kemampuan menggunakan berbagai informasi untuk mencapai tujuan, dan kemampuan menilai kemajuan belajar sendiri. Sementara menurut Margaret W. Matlin (Desmita, 2006 : 137), metakognitif adalah “knowledge and awareness about cognitive processes – or our thought about thinking”.
c)      Anderson & Krathwohl (Sukmadinata & As’ari, 2006 : 26) memberikan rincian dari pengetahuan yang dapat dikuasi atau diajarkan pada setiap tahapan kognitif. Dalam lingkup pengetahuan tersebut, pengetahuan metakognitif menempati pada tingkat tertinggi setelah pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual dan pengetahuan prosedural. Pengetahuan metakognitif meliputi pengetahuan strategik, pengetahuan tugas-tugas berpikir dan pengetahuan pribadi. Sebagai contoh pengetahuan metakognitif, yaitu pengetahuan tentang langkah-langkah penelitian, rencana kegiatan dan program kerja ; pengetahuan tentang jenis metode, tes yang harus digunakan dan dikerjakan guru ; dan pengetahuan tentang sikap, minat, karakteristik yang harus dikuasai untuk menjadi seorang guru yang baik.
d)     Margaret W. Matlin (Desmita, 2006 : 137), metakognitif adalah “knowledge and awareness about cognitive processes – or our thought about thinking”.  Jadi metakognitif adalah suatu kesadaran tentang kognitif kita sendiri, bagaimana kognitif kita bekerja serta bagaimana mengaturnya. Kemampuan ini sangat penting terutama untuk keperluan efisiensi penggunaan kognitif kita dalam menyelesaikan masalah
Berikut ini adalah beberapa manfaat dari keterampilan metakognitif yang dikemukakan oleh para ahli Corebimadalam Anathime (2009):
1.      Eggen dan Kauchak (1996) menyatakan bahwa pengembangan kecakapan  metakognitif pada para siswa adalah suatu tujuan pendidikan yang berharga, karena kecakapan itu dapat membantu mereka menjadi self-regulated learners. Self-regulated learners bertanggung jawab terhadap kemajuan belajarnya sendiri dan mengadaptasi strategi belajarnya mencapai tuntutan tugas.
2.      Menurut Marzano (1988), manfaat metakognisi (strategi) bagi guru dan siswa adalah menekankan monitoring diri dan tanggung jawab siswa (monitoring diri merupakan kecakapan berpikir tinggi).
3.      Susantini, dkk. (2001) menyatakan melalui metakognisi siswa mampu menjadi pebelajar mandiri, menumbuhkan sikap jujur dan berani melakukan kesalahan dan akan meningkatkan hasil belajar secara nyata.
4.      Howard (2004) menyatakan bahwa keterampilan metakognitif diyakini memegang peranan penting pada banyak tipe aktivitas kognitif termasuk pemahaman, komunikasi, perhatian (attention), ingatan (memory), dan pemecahan masalah; sejumlah peneliti yakin bahwa penggunaan strategi yang tidak efektif adalah salah satu penyebab ketidakmampuan belajar.
5.      Peters (2000) berpendapat bahwa keterampilan metakognitif memungkinkan para siswa berkembang sebagai pebelajar mandiri, karena mendorong mereka menjadi manajer atas dirinya sendiri serta menjadi penilai atas pemikiran dan pembelajarannya sendiri.

C.    Perkembangan Kemampuan Metakognitif Anak
Kemampuan metakognitif tumbuh dan berkembang seiring dengan pertambahan usia. Secara umum, kemampuan metakognitif mulai berkembang pada usia sekitar 5 hingga 7 tahun (Woolfolk, 2008). Model Piaget tentang perkembangan intelektual menjelaskan adanya perkembangan, sehingga kecerdasan dibangun dalam suatu kurun waktu dalam rangkaian yang tersusun dari tahapan-tahapan yang saling terkait atau berhubungan, dan tiap tahap ini menentukan perkembangannya. Perkembangan ini merupakan proses fundamental dimana tiap elemen dari pembelajaran sebagai fungsi dari perkembangan secara keseluruhan. Sehingga, perkembangan intelektual seseorang menentukan apa yang bisa dipelajarinya pada taraf itu..
Ketika siswa mempelajari sesuatu, Ia masih berada dalam tingkat intuitif, dan sangat tergantung pada cara materi itu ditunjukkan padanya. Jika konsep yang baru diberikan terlalu jauh dari skemanya, ia mungkin tidak dapat mengasimilasikannya, khususnya bila tingkat penerimaan yang mungkin dengan intuisi lebih rendah daripada yang bisa dicapai oleh refleksi.
Sehingga pada tahap awal, analisis konseptual oleh guru harus digunakan sebagai dasar untuk merencanakan presentasinya dengan seksama yang memungkinkan siswa dapat mensintesis kembali dalam pikirannya sendiri.Situasi yang terbentuk berupa pertanyaan yang bisa diajukan, penjelasan yang diberikan, seorang guru yang peka dapat memenuhi titik pertumbuhan dari skema siswanya, dan memberikan materi yang tepat pada saat yang tepat.Fleksibilitas dalam pendekatan ini menghasilkan ketuntasan pada subjek pebelajar daripada dengan pendekatan yang kaku menurut rencana, sebaik apapun rencana tersebut.Akhirnya, guru secara bertahap mengurangi ketergantungan siswa padanya. Begitu seseorang dapat menganalisa sendiri suatu materi baru, ia dapat menyesuaikannya dengan skemanya sendiri dalam cara yang paling bermakna baginya, yang mungkin saja berbeda dengan cara materi itu disajikan semula.
Oleh karena itu, guru hendaknya dapat menyesuaikan materi pembelajarannya dengan tahap perkembangan skema siswanya, ia juga harus menyesuaikan cara penyajiannya pada kecenderungan berfikir yang dikuasai siswanya. Kecenderungan penalaran intuitif dan konkrit saja, atau intuitif, konkrit dan juga formal.Dan akhirnya, guru secara bertahap meningkatkan kemampuan analitis siswa, sehingga siswa tidak lagi tergantung pada guru.Perkembangan kemampuan intuisi dan refleksi membentuk kemampuan berfikir secara formal.
Pada taraf berfikir formal, anak mampu bernalar secara ilmiah, melakukan pengujian terhadap hipotesis yang dibuatnya, dan mereka mampu merefleksikan suatu akibat melalui pemahaman yang dibangunnya dengan baik.Pada masa ini, mereka mulai mengembangkan penalaran dan logika untuk memecahkan berbagai masalah (Wadsworth, 1984).Taraf berfikir operasional formal pada hakikatnya merupakan metakognisi, karena operasional formal melibatkan berfikir tentang proposisi, hipotesis dan membayangkan semua objek kognitif yang mungkin (Flavell, 1985).

D.    Peranan Metakognisi Dalam Pembelajaran
1.      Keberhasilan Belajar
Sebagaimana dikemukakan pada uraian sebelumnya bahwa metakognisi pada dasarnya adalah kemampuan belajar bagaimana seharusnya belajar dilakukan yang didalamnya dipertimbangkan dan dilakukan aktivitas-aktivitas sebagai berikut (Taccasu Project, 2008).
·         Mengembangkan suatu rencana kegiatan belajar.
·         Mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya berkenaan dengan kegiatan belajar.
·         Menyusun suatu program belajar untuk konsep, keterampilan, dan ide-ide yang baru.
·         Mengidentifkasi dan menggunakan pengalamannya sehari-hari sebagai sumber belajar.
Berdasarkan apa yang dipaparkan di atas dapat dinyatakan bahwa keberhasilan seseorang dalam belajar dipengaruhi oleh kemampuan metakognisinya. Jika setiap kegiatan belajar dilakukan dengan mengacu pada indikator dari learning how to learn maka hasil optimal akan mudah dicapai.
2.      Pengembangan Metakognisi dalam Pembelajaran
Mengingat pentingnya peranan metakognisi dalam keberhasilan belajar, maka upaya untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dapat dilakukan dengan meningkatkan metakognisi mereka.Mengembangkan metakognisi pembelajar berarti membangun fondasi untuk belajar secara aktif. Guru sebagai sebagai perancang kegiatan belajar dan pembelajaran, mempunyai tanggung jawab dan banyak kesempatan untuk mengembangkan metakognisi pembelajar. Strategi yang dapat dilakukan guru atau dosen dalam mengembangkan metakognisi peserta didik melalalui kegiatan belajar dan pembelajaran adalah sebagai berikut (Taccasu Project, 2008).
1)      Membantu peserta didik dalam mengembangkan strategi belajar dengan:
·         Mendorong pembelajar untuk memonitor proses belajar dan berpikirnya.
·         Membimbing pembelajar dalam mengembangkan strategi-strategi belajar yang efektif.
·         Meminta pembelajar untuk membuat prediksi tentang informasi yang akan muncul atau disajikan berikutnya berdasarkan apa yang mereka telah baca atau pelejari.
·         Membimbing pembelajar untuk mengembangkan kebiasaan bertanya.
·         Menunjukkan kepada pembelajar bagaimana teknik mentransfer pengetahuan, sikap-sikap, nilai-nilai, keterampilan-keterampilan dari suatu situasi ke situasi yang lain.
2)      Membimbing pembelajar dalam mengembangkan kebiasaan peserta didik yang baik melalui :
a)      Pengembangan kebiasaan mengelola diri sendiri
Pengembangan kebiasaan mengelola diri sendiri dapat dilakukan dengan : (1) mengidentifikasi gaya belajar yang paling cocok untuk diri sendiri (visual, auditif, kinestetik, deduktif, atau induktif); (2)memonitor dan meningkatkan kemampuan belajar (membaca, menulis, mendengarkan, mengelola waktu, dan memecahkan masalah); (3) memanfaatkan lingkungan belajar secara variatif (di kelas dengan ceramah, diskusi, penugasa, praktik di laboratorium, belajar kelompok, dst).
b)      Mengembangkan kebiasaan untuk berpikir positif
Kebiasaan berpikir positif dikembangkan dengan : (1) meningkatkan rasa percaya diri (self-confidence) dan rasa harga diri (self-esteem) dan (2) mengidentifikasi tujuan belajar dan menikmati aktivitas belajar.
c)      Mengembangkan kebiasaan untuk berpikir secara hirarkhis
Kebiasaan untuk berpikir secara hirarkhis dikembangkan dengan : (1) membuat keputusan dan memecahkan masalah dan (2) memadukan dan menciptakan hubungan-hubungan konsep-konsep yang baru.
d)     Mengembangkan kebiasaan untuk bertanya
Kebiasaan bertanya dikembangkan dengan : (1) mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep utama dan bukti-bukti pendukung; (2) membangkitkan minat dan motivasi; dan (3) memusatkan perhatian dan daya ingat.

E.      Pembelajaran Strategi Metakognitif
Strategi Metakognitif berkaitan dengan cara untuk meningkatkan kesadaran tentang proses berpikir dan pembelajaran yang berlangsung. Apabila kesadaran itu ada, seseorang dapat mengontrol pikirannya.
Siswa dapat menggunakan strategi metakognitif dalam pembelajaran meliputi tiga tahap berikuti, yaitu : merancang apa yang hendak dipelajari; memantau perkembangan diri dalam belajar; dan menilai apa yang dipelajari. Strategi metakognitif dapat digunakan untuk setiap pembelajaran bidang studi apapun. Hal ini penting untuk mengarahkan siswa agar bisa secara sadar mengontrol proses berpikir dan pembelajaran yang dilakukan siswa.
Dengan menggunakan strategi metakognitif, siswa akan mampu mengontrol kelemahan diri dalam belajar dan kemudian memperbaiki kelemahan tersebut ; siswa dapat menentukan cara belajar yang tepat sesuai dengan kemampuannya sendiri ; siswa dapat menyelesaikan masalah-masalah dalam belajar baik yang berkaitan dengan soal-soal yang diberikan oleh guru atau masalah-masalah yang timbul berkaitan dengan proses pembelajaran; dan siswa dapat memahami sejauhmana keberhasilan yang telah ia capai dalam belajar.
Strategi metakognitif dapat juga diajarkan kepada siswa untuk digunakan dalam memecahkan masalah dalam bentuk soal-soal matematika. Strategi metakognitif dapat digunakan siswa dalam proses pemecahan masalah, yaitu : memahami masalah, merencanakan strategi pemecahan, menggunakan/ menarapkan strategi yang telah direncanakan dan menilai hasil pekerjaan. Pembelajaran strategi metakognitif dapat dilakukan secara infusi dalam proses pembelajaran sehingga strategi metakognitif tidak menjadi materi khusus yang diajarkan. Guru dapat meingkatkan kemampuan strategi metakognitif dalam pembelajaran. Beberapa kemampuan strategi metakognitif siswa yang dapat dibiasakan berdasarkan modul yang dibuat oleh Pusat Perkembangan Kurikulum Malaysia (Dindin), yaitu :
1.      merancang/mempersiapkan kegiatan belajar sendiri;
2.      bertanya pada diri sendiri misalnya sebelum, ketika dan setelah membaca buku;
3.      berfikir terlebih dahulu secara sadar sebelum melakukan sesuatu;
4.      menilai dua jenis kegiatan untuk menentukan mana yang terbaik;
5.      mengetahui tingkah laku yang terbaik karena melalui pujian guru atau temannya;
Blakey & Spence (1990) mengemukakan strategi-startegi atau langkah-langkah untuk meningkatkan keterampilan metakognisi, yakni:
a)      Mengidentifikasi “apa yang kau ketahui” dan “apa yang kau tidak ketahui”. Memulai aktivitas pengamatan, siswa perlu membuat keputusan yang disadari tentang pengetahuan mereka. Dengan menyelidiki suatu topik, siswa akan menverifikasi, mengklarivikasi dan mengembangkan, atau mengubah pernyataan awal mereka dengan informasi yang akurat.
b)      Berbicara tentang berpikir (Talking about thinking)
Selama membuat perencanaan dan memecahkan masalah, guru boleh “menyuarakan pikiran”, sehingga siswa dapat ikut mendemonstrasikan proses berpikir. Pemecahan masalah berpasangan merupakan strategi lain yang berguna pada langkah ini. Seorang siswa membicarakan sebuah masalah, mendeskripsikan proses berpikirnya, sedangkan pasangannya mendengarkan dan bertanya untuk membantu mengklarifikasi proses berpikir.
c)      Membuat jurnal berpikir (keeping thinking journal)
Cara lain untuk mengembangkan metakognisi adalah melalui penggunaan jurnal atau catatan belajar. Jurnal ini berupabuku harian dimana setiap siswa merefleksi berpikir mereka, membuat catatan tentang kesadaran mereka terhadap kedwiartian (ambiguities) dan ketidakkonsistenan, dan komentar tentang bagaimana mereka berurusan/menghadapi kesulitan.
d)     Membuat perencanaan dan regulasi-diri
Siswa harus mulai bekerja meningkatkan responsibilitas untuk merencanakan dan meregulasi belajar mereka. Sulit bagi pebelajar menjadi orang yang mampu mengatur diri sendiri (self-directed) ketika belajar direncanakan dan dimonitori oleh orang lain.
e)      Melaporkan kembali proses berpikir (Debriefing thinking process)
Aktivitas terakhir adalah menfokuskan diskusi siswa pada proses berpikir untuk mengembangkan kesadaran tentang strategi-strategi yang dapat diaplikasikan pada situasi belajar yang lain. Metode tiga langkah dapat digunakan; Pertama: guru mengarahkan siswa untuk mereviu aktivitas, mengumpulkan data tentang proses berpikir; Kedua: kelompok mengklasifikasi ide-ide yang terkait, mengindentifikasi strategi yang digunakan; Ketiga: mereka mengevaluasi keberhasilan, membuang strategi-strategi yang tidak tepat, mengindentifikasi strategi yang dapat digunakan kemudian, dan mencari pendekatan alternatif yang menjanjikan.
f)       Evaluasi-diri (Self-evaluation)
Mengarahkan pengalaman-pengalaman evaluasi-diri dapat diawali melalui pertemuan individual dan daftar-daftar yang berfokus pada proses berpikir. Secara bertahap, evaluasi-diri akan lebih banyak diaplikasikan secara independen.
Dalam penelitian ini model yang dikembangkan sebagai model pelatihan dan pembinaan guru sains, dengan mengadaptasi konsep metakognitif Marzano dengan meliputi 3 (tiga) tahapan strategi sebagai berikut:
1.      Tahap proses sadar belajar (awareness)
merupakan komponen yang paling dasar dari metakognisi. Kewaspadaan ini termasuk dua cara apakah siswa biasanya melakukan pendekatan pada tugas dan cara alternatif yang mungkin mereka lakukan.
2.      Tahap merencanakan belajar (Planning)
merupakan komponen rencana dari metakognisi adalah bertanggung jawab untuk “mengidentifikasi dan mengaktifkan kemampuan, taktik, dan proses tertentu yang akan digunakan dalam “mencapai cita-cita” (Marzano, 1998, h. 60).
3.      Tahap monitoring dan refleksi belajar (monitoring and reflection), merupakan komponen akhir dari metakognisi adalah pemantauan. Fungsi ini bekerja pada keefektifan rencana dan strategi yang digunakan. 

F.     Aplikasi Strategi Metakognitif dalam Menghadapi Ujian
Sekolah (Sebuah Contoh Kasus)
Apa yang harus dilakukan siswa ketika mereka akan menghadapi ujian di
sekolahnya? Kecemasan berlebihan yang berujung pada pilihan sikap siswa untuk
melakukan tindakan tidak fair (mencontek) adalah masalah mendasar terkait refleksi diri, inisiatif dan tanggung jawab diri, perencanaan target diri (goal setting), dan manajemen waktu.
Apa manfaat yang bisa saya dapatkan dari kegiatan ujian sekolah? Apa tujuan
saya mengikuti ujian di sekolah? Apakah hanya sekadar mengikuti ujian dan
mendapatkan nilai sekadarnya pula? Ataukah, saya punya motivasi untuk
mendapatkan nilai terbaik dari usaha terbaik yang dapat dilakukan? Jika jawaban
mendasar telah ditemukan siswa untuk merespon pertanyaan-pertanyaan tadi, maka pada hakikatnya siswa sudah melakukan proses refleksi diri dan penentuan target hasil belajar mereka. Inilah langkah awal yang baik untuk meraih keberhasilan gemilang dalam mengikuti ujian sekolah.
Ketika guru menentukan topik tertentu untuk diujikan, maka siswa bertanya
pada diri mereka terkait hal-hal, ”Pengetahuan mana yang telah dan belum saya
kuasai?; Mengapa saya tidak menguasai materi pada topik ini?; Bagaimana cara
saya menguasai topik materi ujian yang belum dikuasai?; Soal-soal seperti apa
yang mungkin akan guru saya ujikan nanti?” Dalam konteks ini, siswa sedang
mengalami proses untuk mengambil inisiatif dalam menilai pemahaman mereka
terhadap topik materi yang akan diujikan. Mereka berinisiatif untuk menyiapkan
diri dalam upaya merealisasikan pencapaian target yang telah mereka ikrarkan.
”Strategi belajar seperti apa yang harus saya pilih agar hasil ujiannya
dapat sesuai harapan?; Apakah saya lebih merasa enjoy belajar dengan
menggunakan teknik menghafal?; Saya merasa lebih dapat memahami materi dengan cara mind-mapping, apakah cara mind-mapping cukup tepat untuk saya
gunakan pada saat ini dalam menghadapi ujian sekolah?” Pada situasi ini, siswa
memilih strategi belajar terbaik mereka untuk dapat mencapai target dalam
mengikuti ujian sekolah. Semakin tahu mereka akan modalitas belajar mereka,
semakin paham mereka terhadap konsekuensi-konsekuensi dari pilihan strategi
belajar yang mereka putuskan, maka peluang siswa untuk mendapatkan hasil ujian sesuai harapan mereka akan semakin besar untuk dapat diwujudkan.
Manajemen waktu, masalah mendasar bagi semua orang, tak terkecuali bagi
seorang siswa yang akan menghadapi ujian sekolah. ”Berapa banyak waktu yang
harus saya luangkan untuk mempelajari lebih dalam topik materi yang hendak
diujikan?; Saya merasa lebih menikmati belajar antara jam 4 – 5 pagi, apakah
ini ’jam biologis belajar’ saya?”
Strategi metakognitif menyampaikan satu pesan khusus bagi siapa pun yang
ingin menjalani hidup secara efektif, bahwasanya kenyataan hidup yang terjadi
pada saat ini adalah akibat dari pilihan-pilihan hidup kita di masa lampau.
Hari ini kita jadi orang sukses, hari ini kita jadi orang gagal, bahkan hari
ini sekalipun kita jadi orang bingung dengan kelebihan dan kekurangan diri kita,
maka hal itu diakibatkan oleh lemahnya diri kita dalam merancang kehidupan
kita, memantau kualitas perkembangan kehidupan kita, menilai kesuksesan hidup
kita, serta mengubah sikap hidup kita jika perlu untuk mencapai level kualitas
hidup yang lebih baik. Inspirasi utama ini sebenarnya yang perlu ditanamkan
kepada siswa kita agar menjadi seorang pembelajar mandiri dan pemecah masalah
kehidupan yang handal.














BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
 Pengertian metakognitif adalah suatu kesadaran tentang kognitif kita sendiri, bagaimana kognitif kita bekerja serta bagaimana mengaturnya. Kemampuan ini sangat penting terutama untuk keperluan efisiensi penggunaan kognitif kita dalam menyelesaikan masalah. Secara ringkas metakognitif dapat diistilahkan sebagai “thinking about thingking”. Perkembangan metakognitif adalah siswa mampu memilih, menggunakan, dan memonitor strategi-strategi kognitif yang cocok dengan tipe belajar, gaya berpikir, dan gaya kognitif yang dimiliki dalam mengahadapi tugas-tugas kognitif. Strategi mengembangkan metakognitif mengidentifikasi, berbicara tentang berpikir, membuat jurnal berpikir, melaporkan hasil berpikir, evaluasi diri.
B.     Saran
Sebagai para calon guru hendaknya kita benar-benar profesional dalam disiplin ilmu yang kita  kuasai sehingga dapt menularkan pengetahun kepada anak didik dengan baik. Kemampuan dan ketrampilan bahasa yang kita miliki tidak hanya menuntut  untuk menguasai teori semata tetapi juga menuntut kita mampu untuk mencontohkan dalam bentuk karya-karya nyata khususnya pada materi yang memerlukan praktik nyata.




DAFTAR PUSTAKA




0 komentar:

Posting Komentar