BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Belajar adalah proses mental yang aktif untuk mendapatkan,
mengingat, dan menggunakan pengetahuan. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh
persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya.Belajar
merupakan perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat
sebagai tingkah laku yang tampak. Belajar adalah aktivitas yang melibatkan
proses berpikir yang sangat kompleks dan saling berhubungan dengan seluruh
konteks situasi tersebut. Memisah-misahkan atau membagi-bagi situasi/materi
pelajaran menjadi komponen-komponen yang kecil-kecil dan mempelajarinya secara
terpisah-pisah akan kehilangan makna. Teori ini berpandangan bahwa belajar
merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan
informasi, emosi dan aspek-aspek kejiwaan lainnya.
Pemerintah selalu memperbaharui kurikulum dengan tujuan untuk
mem-perbaiki kualitas pendidikan dan pembelajaran di Indonesia.Pembaharuan yang
telah dilakukan, di antaranya penyempurnaan Kurikulum Sekolah Menengah Atas
Tahun 2004 (Depdiknas, 2003). Pembelajaran selama ini belum membelajarkan siswa
memiliki kemampuan berpikir untuk menyadari apa yang telah dipelajari,
memberdayakan siswa berpikir kreatif dan antusias serta termotivasi untuk
mengetahui objek belajarnya melalui pelibatan aktif belajar, baik memecahkan
masalah nyata dalam kehidupannya, maupun merangsang siswa untuk selalu tanggap
terhadap permasalahan yang ada di ling-kungan sekitarnya (Winarno, Susilo, dan
Soebagio, 2000). Peningkatan kemam-puan metakognitif secara signifikan
merupakan efek yang dihasilkan dari pem-belajaran, baik pada diri siswa,
lembaga maupun masyarakat, karena itu perlu dipertimbangkan strategi
pembelajaran yang berpotensi untuk mengungkap kemampuan metakognitif.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana
sejarah metakognitif?
2. Apa yang
dimaksud dengan teori metakognitif?
3. Bagaimana
strategi perkembangan metakognitif?
4. Bagaimana
perkembangan kemampuan metakognitif anak?
C. Tujuan Penulisan
1.
Untuk
mengetahui sejarah metakognitif
2.
Untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan teori metakognitif
3.
Untuk
mengetahui bagaimana strategi perkembangan metakognitif
4.
Untuk
mengetahui bagaimana perkemabangan
kemampuan metakognitif anak.
BAB II
PEMBAHASAN
Metakognitif
A. Sejarah Kognitif
John Flavell (1976) mula
memperkenalkan istilah metakognisi yang ditafsirkan sebagai "pengetahuan
seseorang tentang proses kognitifnya". Dia membahagikan metakognisi kepada
3 variabel:
1.
Variabel Individu - mengetahui bahawa kita semua adalah organisme
kognitif atau pemikir; iaitu, segala tindak-tanduk kita adalah akhibat daripada
cara kita berfikir. Variabel Individu dibahagikan kepada:
a)
Variabel
intra-individu
b)
Variabel
antara-individu
c)
Variabel
universal
2.
Variabel Tugas - mengetahui keperluan, kesan dan kekangan sesuatu
tugas kognitif. m.s. sekiranya maklumat yang disampaikan oleh pensyarah adalah
sukar dan tidak akan diulangi, kamu tentu akan memberi lebih perhatian dan
mendengar dengan memproses maklumat itu dengan lebih teliti.
3.
Variabel Strategi - pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu atau
mengatasi kesulitan yang timbul, iaitu, bagaimana mencapai matlamat. Kamu tahu
melakukan 'pemantauan kognitif' ('cognitive monitoring').
B. Pengertian Metakognisi
Metakognisi merupakan suatu istilah
yang diperkenalkan oleh Flavell pada tahun 1976 dan menimbulkan banyak
perdebatan pada pendefinisiannya. Hal ini berakibat bahwa metakognisi tidak
selalu sama didalam berbagai macam bidang penelitian psikologi, dan juga tidak
dapat diterapkan pada satu bidang psikologi saja. Namun demikian, pengertian
metakognisi yang dikemukakan oleh para peneliti bidang psikologi, pada umumnya
memberikan penekanan pada kesadaran berpikir seseorang tentang proses
berpikirnya sendiri. Gredler (2011)
Wellman (1985) menyatakan bahwa:
Metakognisi adalah suatu bentuk kognisi, proses berpikir urutan kedua atau
lebih tinggi yang melibatkan kontrol aktif atas proses kognitif. Hal ini dapat
hanya didefinisikan sebagai berpikir tentang berpikir atau “kognisi seseorang
tentang kognisi” Metakognisi sebagai suatu bentuk kognisi, atau proses
imunisasi meliputi tingkat berpikir yang lebih tinggi, melibatkan pengendalian
terhadap aktivitas kognitif.
Flavell & Brown dalam menyatakan
bahwa metakognisi adalah pengetahuan (knowledge) dan regulasi (regulation) pada
suatu aktivitas kognitif seseorang dalam proses belajarnya. Sedangkan Moore
(2004) menyatakan bahwa: Metakognisi mengacu pada pemahaman seseorang tentang
pengetahuannya, sehingga pemahaman yang mendalam tentang pengetahuannya akan
mencerminkan penggunaannya yang efektif atau uraian yang jelas tentang
pengetahuan yang dipermasalahkan. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan-kognisi
adalah kesadaran seseorang tentang apa yang sesungguhnya diketahuinya dan
regulasi-kognisi adalah bagaimana seseorang mengatur aktivitas kognisifnya
secara efektif. Karena itu, pengetahuan-kognisi memuat pengetahuan deklaratif,
prosedural, dan kondisional, sedang regulasi-kognisi mencakup kegiatan
perencanaan, prediksi, monitoring (pemantauan), pengujian, perbaikan (revisi),
pengecekan (pemeriksaan), dan evaluasi.
Berdasarkan beberapa pengertian
metakognitif beberapa ahli di atas disimpulkan bahwa metakognitif adalah suatu
kesadaran tentang kognitif kita sendiri, bagaimana kognitif kita bekerja serta
bagaimana mengaturnya.Kemampuan ini sangat penting terutama untuk keperluan
efisiensi penggunaan kognitif kita dalam menyelesaikan masalah.Secara ringkas
metakognitif dapat diistilahkan sebagai “thinking about thingking”.
a) Menurut
Suherman et.al. (2001 : 95), metakognitif adalah suatu kata yang berkaitan
dengan apa yang diketahui tentang dirinya sebagai individu yang belajar dan
bagaimana dia mengontrol serta menyesuaikan prilakunya. Seseorang perlu
menyadari kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Metakognitif adalah suatu
bentuk kemampuan untuk melihat pada diri sendiri sehingga apa yang dia lakukan
dapat terkontrol secara optimal. Dengan kemampuan seperti ini seseorang
dimungkinkan memiliki kemampuan tinggi dalam memecahkan masalah, sebab dalam
setiap langkah yang dia kerjakan senantiasa muncul pertanyaan : “Apa yang saya
kerjakan ?”; “Mengapa saya mengerjakan ini?”; “Hal apa yang membantu saya untuk
menyelesaikan masalah ini?”.
b) Flavel
(Jonassen, 2000 : 14) memberikan definisi metakognitif sebagai kesadaran
seseorang tentang bagaimana ia belajar, kemampuan untuk menilai kesukaran
sesuatu masalah, kemampuan untuk mengamati tingkat pemahaman dirinya, kemampuan
menggunakan berbagai informasi untuk mencapai tujuan, dan kemampuan menilai
kemajuan belajar sendiri. Sementara menurut Margaret W. Matlin (Desmita, 2006 :
137), metakognitif adalah “knowledge and awareness about cognitive processes
– or our thought about thinking”.
c) Anderson & Krathwohl
(Sukmadinata & As’ari, 2006 : 26) memberikan rincian dari pengetahuan yang
dapat dikuasi atau diajarkan pada setiap tahapan kognitif. Dalam lingkup
pengetahuan tersebut, pengetahuan metakognitif menempati pada tingkat tertinggi
setelah pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual dan pengetahuan prosedural.
Pengetahuan metakognitif meliputi pengetahuan strategik, pengetahuan
tugas-tugas berpikir dan pengetahuan pribadi. Sebagai contoh pengetahuan
metakognitif, yaitu pengetahuan tentang langkah-langkah penelitian, rencana
kegiatan dan program kerja ; pengetahuan tentang jenis metode, tes yang harus
digunakan dan dikerjakan guru ; dan pengetahuan tentang sikap, minat,
karakteristik yang harus dikuasai untuk menjadi seorang guru yang baik.
d) Margaret W. Matlin
(Desmita, 2006 : 137), metakognitif adalah “knowledge and awareness about
cognitive processes – or our thought about thinking”. Jadi
metakognitif adalah suatu kesadaran tentang kognitif kita sendiri, bagaimana
kognitif kita bekerja serta bagaimana mengaturnya. Kemampuan ini sangat penting
terutama untuk keperluan efisiensi penggunaan kognitif kita dalam
menyelesaikan masalah
Berikut ini adalah beberapa manfaat
dari keterampilan metakognitif yang dikemukakan oleh para ahli Corebimadalam
Anathime (2009):
1.
Eggen
dan Kauchak (1996) menyatakan bahwa pengembangan kecakapan metakognitif pada para siswa adalah suatu
tujuan pendidikan yang berharga, karena kecakapan itu dapat membantu mereka
menjadi self-regulated learners. Self-regulated learners bertanggung
jawab terhadap kemajuan belajarnya sendiri dan mengadaptasi strategi belajarnya
mencapai tuntutan tugas.
2.
Menurut
Marzano (1988), manfaat metakognisi (strategi) bagi guru dan siswa adalah
menekankan monitoring diri dan tanggung jawab siswa (monitoring diri merupakan
kecakapan berpikir tinggi).
3.
Susantini,
dkk. (2001) menyatakan melalui metakognisi siswa mampu menjadi pebelajar
mandiri, menumbuhkan sikap jujur dan berani melakukan kesalahan dan akan
meningkatkan hasil belajar secara nyata.
4.
Howard
(2004) menyatakan bahwa keterampilan metakognitif diyakini memegang peranan
penting pada banyak tipe aktivitas kognitif termasuk pemahaman, komunikasi,
perhatian (attention), ingatan (memory), dan pemecahan masalah;
sejumlah peneliti yakin bahwa penggunaan strategi yang tidak efektif adalah
salah satu penyebab ketidakmampuan belajar.
5.
Peters
(2000) berpendapat bahwa keterampilan metakognitif memungkinkan para siswa
berkembang sebagai pebelajar mandiri, karena mendorong mereka menjadi manajer
atas dirinya sendiri serta menjadi penilai atas pemikiran dan pembelajarannya
sendiri.
C. Perkembangan Kemampuan Metakognitif
Anak
Kemampuan metakognitif tumbuh dan
berkembang seiring dengan pertambahan usia. Secara umum, kemampuan metakognitif
mulai berkembang pada usia sekitar 5 hingga 7 tahun (Woolfolk, 2008). Model
Piaget tentang perkembangan intelektual menjelaskan adanya perkembangan,
sehingga kecerdasan dibangun dalam suatu kurun waktu dalam rangkaian yang
tersusun dari tahapan-tahapan yang saling terkait atau berhubungan, dan tiap
tahap ini menentukan perkembangannya. Perkembangan ini merupakan proses
fundamental dimana tiap elemen dari pembelajaran sebagai fungsi dari
perkembangan secara keseluruhan. Sehingga, perkembangan intelektual seseorang
menentukan apa yang bisa dipelajarinya pada taraf itu..
Ketika siswa mempelajari sesuatu, Ia
masih berada dalam tingkat intuitif, dan sangat tergantung pada cara materi itu
ditunjukkan padanya. Jika konsep yang baru diberikan terlalu jauh dari
skemanya, ia mungkin tidak dapat mengasimilasikannya, khususnya bila tingkat
penerimaan yang mungkin dengan intuisi lebih rendah daripada yang bisa dicapai
oleh refleksi.
Sehingga pada tahap awal, analisis
konseptual oleh guru harus digunakan sebagai dasar untuk merencanakan
presentasinya dengan seksama yang memungkinkan siswa dapat mensintesis kembali
dalam pikirannya sendiri.Situasi yang terbentuk berupa pertanyaan yang bisa
diajukan, penjelasan yang diberikan, seorang guru yang peka dapat memenuhi
titik pertumbuhan dari skema siswanya, dan memberikan materi yang tepat pada
saat yang tepat.Fleksibilitas dalam pendekatan ini menghasilkan ketuntasan pada
subjek pebelajar daripada dengan pendekatan yang kaku menurut rencana, sebaik
apapun rencana tersebut.Akhirnya, guru secara bertahap mengurangi ketergantungan
siswa padanya. Begitu seseorang dapat menganalisa sendiri suatu materi baru, ia
dapat menyesuaikannya dengan skemanya sendiri dalam cara yang paling bermakna
baginya, yang mungkin saja berbeda dengan cara materi itu disajikan semula.
Oleh karena itu, guru hendaknya
dapat menyesuaikan materi pembelajarannya dengan tahap perkembangan skema
siswanya, ia juga harus menyesuaikan cara penyajiannya pada kecenderungan
berfikir yang dikuasai siswanya. Kecenderungan penalaran intuitif dan konkrit
saja, atau intuitif, konkrit dan juga formal.Dan akhirnya, guru secara bertahap
meningkatkan kemampuan analitis siswa, sehingga siswa tidak lagi tergantung
pada guru.Perkembangan kemampuan intuisi dan refleksi membentuk kemampuan
berfikir secara formal.
Pada taraf berfikir formal, anak
mampu bernalar secara ilmiah, melakukan pengujian terhadap hipotesis yang
dibuatnya, dan mereka mampu merefleksikan suatu akibat melalui pemahaman yang
dibangunnya dengan baik.Pada masa ini, mereka mulai mengembangkan penalaran dan
logika untuk memecahkan berbagai masalah (Wadsworth, 1984).Taraf berfikir
operasional formal pada hakikatnya merupakan metakognisi, karena operasional
formal melibatkan berfikir tentang proposisi, hipotesis dan membayangkan semua
objek kognitif yang mungkin (Flavell, 1985).
D. Peranan Metakognisi Dalam
Pembelajaran
1.
Keberhasilan
Belajar
Sebagaimana dikemukakan pada uraian
sebelumnya bahwa metakognisi pada dasarnya adalah kemampuan belajar bagaimana
seharusnya belajar dilakukan yang didalamnya dipertimbangkan dan dilakukan
aktivitas-aktivitas sebagai berikut (Taccasu Project, 2008).
·
Mengembangkan
suatu rencana kegiatan belajar.
·
Mengidentifikasi
kelebihan dan kekurangannya berkenaan dengan kegiatan belajar.
·
Menyusun
suatu program belajar untuk konsep, keterampilan, dan ide-ide yang baru.
·
Mengidentifkasi
dan menggunakan pengalamannya sehari-hari sebagai sumber belajar.
Berdasarkan apa yang dipaparkan di atas dapat dinyatakan
bahwa keberhasilan seseorang dalam belajar dipengaruhi oleh kemampuan metakognisinya.
Jika setiap kegiatan belajar dilakukan dengan mengacu pada indikator dari learning how to learn maka hasil optimal akan
mudah dicapai.
2.
Pengembangan
Metakognisi dalam Pembelajaran
Mengingat pentingnya peranan
metakognisi dalam keberhasilan belajar, maka upaya untuk meningkatkan hasil
belajar peserta didik dapat dilakukan dengan meningkatkan metakognisi
mereka.Mengembangkan metakognisi pembelajar berarti membangun fondasi untuk
belajar secara aktif. Guru sebagai sebagai perancang kegiatan belajar dan
pembelajaran, mempunyai tanggung jawab dan banyak kesempatan untuk
mengembangkan metakognisi pembelajar. Strategi yang dapat dilakukan guru atau
dosen dalam mengembangkan metakognisi peserta didik melalalui kegiatan belajar
dan pembelajaran adalah sebagai berikut (Taccasu Project,
2008).
1) Membantu peserta didik dalam
mengembangkan strategi belajar dengan:
·
Mendorong
pembelajar untuk memonitor proses belajar dan berpikirnya.
·
Membimbing
pembelajar dalam mengembangkan strategi-strategi belajar yang efektif.
·
Meminta
pembelajar untuk membuat prediksi tentang informasi yang akan muncul atau
disajikan berikutnya berdasarkan apa yang mereka telah baca atau pelejari.
·
Membimbing
pembelajar untuk mengembangkan kebiasaan bertanya.
·
Menunjukkan
kepada pembelajar bagaimana teknik mentransfer pengetahuan, sikap-sikap,
nilai-nilai, keterampilan-keterampilan dari suatu situasi ke situasi yang lain.
2) Membimbing pembelajar dalam
mengembangkan kebiasaan peserta didik yang baik melalui :
a) Pengembangan kebiasaan mengelola
diri sendiri
Pengembangan kebiasaan mengelola
diri sendiri dapat dilakukan dengan : (1) mengidentifikasi gaya belajar yang
paling cocok untuk diri sendiri (visual, auditif, kinestetik, deduktif, atau
induktif); (2)memonitor dan meningkatkan kemampuan belajar (membaca, menulis,
mendengarkan, mengelola waktu, dan memecahkan masalah); (3) memanfaatkan
lingkungan belajar secara variatif (di kelas dengan ceramah, diskusi, penugasa,
praktik di laboratorium, belajar kelompok, dst).
b) Mengembangkan kebiasaan untuk berpikir
positif
Kebiasaan berpikir positif
dikembangkan dengan : (1) meningkatkan rasa percaya diri (self-confidence) dan rasa harga diri (self-esteem) dan (2) mengidentifikasi tujuan belajar
dan menikmati aktivitas belajar.
c) Mengembangkan kebiasaan untuk berpikir
secara hirarkhis
Kebiasaan untuk berpikir secara
hirarkhis dikembangkan dengan : (1) membuat keputusan dan memecahkan masalah
dan (2) memadukan dan menciptakan hubungan-hubungan konsep-konsep yang baru.
d) Mengembangkan kebiasaan untuk
bertanya
Kebiasaan bertanya dikembangkan
dengan : (1) mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep utama dan bukti-bukti
pendukung; (2) membangkitkan minat dan motivasi; dan (3) memusatkan perhatian
dan daya ingat.
E.
Pembelajaran Strategi Metakognitif
Strategi
Metakognitif berkaitan dengan cara untuk meningkatkan kesadaran tentang proses
berpikir dan pembelajaran yang berlangsung. Apabila kesadaran itu ada,
seseorang dapat mengontrol pikirannya.
Siswa
dapat menggunakan strategi metakognitif dalam pembelajaran meliputi tiga tahap
berikuti, yaitu : merancang apa yang hendak dipelajari; memantau
perkembangan diri dalam belajar; dan menilai apa yang dipelajari.
Strategi metakognitif dapat digunakan untuk setiap pembelajaran bidang studi
apapun. Hal ini penting untuk mengarahkan siswa agar bisa secara sadar
mengontrol proses berpikir dan pembelajaran yang dilakukan siswa.
Dengan
menggunakan strategi metakognitif, siswa akan mampu mengontrol kelemahan diri
dalam belajar dan kemudian memperbaiki kelemahan tersebut ; siswa dapat
menentukan cara belajar yang tepat sesuai dengan kemampuannya sendiri ; siswa
dapat menyelesaikan masalah-masalah dalam belajar baik yang berkaitan dengan
soal-soal yang diberikan oleh guru atau masalah-masalah yang timbul berkaitan
dengan proses pembelajaran; dan siswa dapat memahami sejauhmana keberhasilan
yang telah ia capai dalam belajar.
Strategi
metakognitif dapat juga diajarkan kepada siswa untuk digunakan dalam memecahkan
masalah dalam bentuk soal-soal matematika. Strategi metakognitif dapat
digunakan siswa dalam proses pemecahan masalah, yaitu : memahami masalah,
merencanakan strategi pemecahan, menggunakan/ menarapkan strategi yang telah
direncanakan dan menilai hasil pekerjaan. Pembelajaran strategi metakognitif dapat
dilakukan secara infusi dalam proses pembelajaran sehingga strategi
metakognitif tidak menjadi materi khusus yang diajarkan. Guru dapat meingkatkan
kemampuan strategi metakognitif dalam pembelajaran. Beberapa kemampuan strategi
metakognitif siswa yang dapat dibiasakan berdasarkan modul yang dibuat oleh
Pusat Perkembangan Kurikulum Malaysia (Dindin), yaitu :
1. merancang/mempersiapkan kegiatan
belajar sendiri;
2. bertanya pada diri sendiri misalnya
sebelum, ketika dan setelah membaca buku;
3. berfikir terlebih dahulu secara
sadar sebelum melakukan sesuatu;
4. menilai dua jenis kegiatan untuk
menentukan mana yang terbaik;
5. mengetahui tingkah laku yang terbaik
karena melalui pujian guru atau temannya;
Blakey & Spence (1990)
mengemukakan strategi-startegi atau langkah-langkah untuk meningkatkan
keterampilan metakognisi, yakni:
a)
Mengidentifikasi “apa yang
kau ketahui” dan “apa yang kau tidak ketahui”. Memulai aktivitas pengamatan, siswa perlu membuat
keputusan yang disadari tentang pengetahuan mereka. Dengan menyelidiki suatu
topik, siswa akan menverifikasi, mengklarivikasi dan mengembangkan, atau
mengubah pernyataan awal mereka dengan informasi yang akurat.
b)
Berbicara
tentang berpikir (Talking about thinking)
Selama membuat
perencanaan dan memecahkan masalah, guru boleh “menyuarakan pikiran”, sehingga
siswa dapat ikut mendemonstrasikan proses berpikir. Pemecahan masalah
berpasangan merupakan strategi lain yang berguna pada langkah ini.
Seorang siswa membicarakan sebuah masalah, mendeskripsikan proses berpikirnya,
sedangkan pasangannya mendengarkan dan bertanya untuk membantu mengklarifikasi
proses berpikir.
c)
Membuat
jurnal berpikir (keeping thinking journal)
Cara lain untuk
mengembangkan metakognisi adalah melalui penggunaan jurnal atau catatan
belajar. Jurnal ini berupabuku harian dimana setiap siswa
merefleksi berpikir mereka, membuat catatan tentang kesadaran mereka terhadap
kedwiartian (ambiguities) dan ketidakkonsistenan, dan komentar tentang
bagaimana mereka berurusan/menghadapi kesulitan.
d)
Membuat
perencanaan dan regulasi-diri
Siswa harus
mulai bekerja meningkatkan responsibilitas untuk merencanakan dan meregulasi
belajar mereka. Sulit bagi pebelajar menjadi orang yang mampu mengatur diri
sendiri (self-directed) ketika belajar direncanakan dan dimonitori oleh orang
lain.
e)
Melaporkan
kembali proses berpikir (Debriefing thinking process)
Aktivitas
terakhir adalah menfokuskan diskusi siswa pada proses berpikir untuk
mengembangkan kesadaran tentang strategi-strategi yang dapat diaplikasikan pada
situasi belajar yang lain. Metode tiga langkah dapat digunakan; Pertama:
guru mengarahkan siswa untuk mereviu aktivitas, mengumpulkan data tentang
proses berpikir; Kedua: kelompok mengklasifikasi ide-ide yang
terkait, mengindentifikasi strategi yang digunakan; Ketiga: mereka
mengevaluasi keberhasilan, membuang strategi-strategi yang tidak tepat,
mengindentifikasi strategi yang dapat digunakan kemudian, dan mencari
pendekatan alternatif yang menjanjikan.
f)
Evaluasi-diri
(Self-evaluation)
Mengarahkan
pengalaman-pengalaman evaluasi-diri dapat diawali melalui pertemuan individual
dan daftar-daftar yang berfokus pada proses berpikir. Secara bertahap,
evaluasi-diri akan lebih banyak diaplikasikan secara independen.
Dalam
penelitian ini model yang dikembangkan sebagai model pelatihan dan pembinaan
guru sains, dengan mengadaptasi konsep metakognitif Marzano dengan meliputi 3
(tiga) tahapan strategi sebagai berikut:
1. Tahap proses
sadar belajar (awareness)
merupakan
komponen yang paling dasar dari metakognisi. Kewaspadaan ini termasuk dua cara
apakah siswa biasanya melakukan pendekatan pada tugas dan cara alternatif yang
mungkin mereka lakukan.
2. Tahap
merencanakan belajar (Planning)
merupakan
komponen rencana dari metakognisi adalah bertanggung jawab untuk
“mengidentifikasi dan mengaktifkan kemampuan, taktik, dan proses tertentu yang
akan digunakan dalam “mencapai cita-cita” (Marzano, 1998, h. 60).
3.
Tahap monitoring dan refleksi belajar
(monitoring and reflection), merupakan komponen akhir dari
metakognisi adalah pemantauan. Fungsi ini bekerja pada keefektifan rencana dan
strategi yang digunakan.
F. Aplikasi
Strategi Metakognitif dalam Menghadapi Ujian
Sekolah (Sebuah Contoh Kasus)
Sekolah (Sebuah Contoh Kasus)
Apa yang harus dilakukan siswa ketika mereka akan
menghadapi ujian di
sekolahnya? Kecemasan berlebihan yang berujung pada pilihan sikap siswa untuk
melakukan tindakan tidak fair (mencontek) adalah masalah mendasar terkait refleksi diri, inisiatif dan tanggung jawab diri, perencanaan target diri (goal setting), dan manajemen waktu. Apa manfaat yang bisa saya dapatkan dari kegiatan ujian sekolah? Apa tujuan
saya mengikuti ujian di sekolah? Apakah hanya sekadar mengikuti ujian dan
mendapatkan nilai sekadarnya pula? Ataukah, saya punya motivasi untuk
mendapatkan nilai terbaik dari usaha terbaik yang dapat dilakukan? Jika jawaban
mendasar telah ditemukan siswa untuk merespon pertanyaan-pertanyaan tadi, maka pada hakikatnya siswa sudah melakukan proses refleksi diri dan penentuan target hasil belajar mereka. Inilah langkah awal yang baik untuk meraih keberhasilan gemilang dalam mengikuti ujian sekolah.
sekolahnya? Kecemasan berlebihan yang berujung pada pilihan sikap siswa untuk
melakukan tindakan tidak fair (mencontek) adalah masalah mendasar terkait refleksi diri, inisiatif dan tanggung jawab diri, perencanaan target diri (goal setting), dan manajemen waktu. Apa manfaat yang bisa saya dapatkan dari kegiatan ujian sekolah? Apa tujuan
saya mengikuti ujian di sekolah? Apakah hanya sekadar mengikuti ujian dan
mendapatkan nilai sekadarnya pula? Ataukah, saya punya motivasi untuk
mendapatkan nilai terbaik dari usaha terbaik yang dapat dilakukan? Jika jawaban
mendasar telah ditemukan siswa untuk merespon pertanyaan-pertanyaan tadi, maka pada hakikatnya siswa sudah melakukan proses refleksi diri dan penentuan target hasil belajar mereka. Inilah langkah awal yang baik untuk meraih keberhasilan gemilang dalam mengikuti ujian sekolah.
Ketika guru menentukan topik tertentu untuk diujikan,
maka siswa bertanya
pada diri mereka terkait hal-hal, ”Pengetahuan mana yang telah dan belum saya
kuasai?; Mengapa saya tidak menguasai materi pada topik ini?; Bagaimana cara
saya menguasai topik materi ujian yang belum dikuasai?; Soal-soal seperti apa
yang mungkin akan guru saya ujikan nanti?” Dalam konteks ini, siswa sedang
mengalami proses untuk mengambil inisiatif dalam menilai pemahaman mereka
terhadap topik materi yang akan diujikan. Mereka berinisiatif untuk menyiapkan
diri dalam upaya merealisasikan pencapaian target yang telah mereka ikrarkan.
pada diri mereka terkait hal-hal, ”Pengetahuan mana yang telah dan belum saya
kuasai?; Mengapa saya tidak menguasai materi pada topik ini?; Bagaimana cara
saya menguasai topik materi ujian yang belum dikuasai?; Soal-soal seperti apa
yang mungkin akan guru saya ujikan nanti?” Dalam konteks ini, siswa sedang
mengalami proses untuk mengambil inisiatif dalam menilai pemahaman mereka
terhadap topik materi yang akan diujikan. Mereka berinisiatif untuk menyiapkan
diri dalam upaya merealisasikan pencapaian target yang telah mereka ikrarkan.
”Strategi belajar seperti apa yang harus saya pilih agar
hasil ujiannya
dapat sesuai harapan?; Apakah saya lebih merasa enjoy belajar dengan
menggunakan teknik menghafal?; Saya merasa lebih dapat memahami materi dengan cara mind-mapping, apakah cara mind-mapping cukup tepat untuk saya
gunakan pada saat ini dalam menghadapi ujian sekolah?” Pada situasi ini, siswa
memilih strategi belajar terbaik mereka untuk dapat mencapai target dalam
mengikuti ujian sekolah. Semakin tahu mereka akan modalitas belajar mereka,
semakin paham mereka terhadap konsekuensi-konsekuensi dari pilihan strategi
belajar yang mereka putuskan, maka peluang siswa untuk mendapatkan hasil ujian sesuai harapan mereka akan semakin besar untuk dapat diwujudkan.
dapat sesuai harapan?; Apakah saya lebih merasa enjoy belajar dengan
menggunakan teknik menghafal?; Saya merasa lebih dapat memahami materi dengan cara mind-mapping, apakah cara mind-mapping cukup tepat untuk saya
gunakan pada saat ini dalam menghadapi ujian sekolah?” Pada situasi ini, siswa
memilih strategi belajar terbaik mereka untuk dapat mencapai target dalam
mengikuti ujian sekolah. Semakin tahu mereka akan modalitas belajar mereka,
semakin paham mereka terhadap konsekuensi-konsekuensi dari pilihan strategi
belajar yang mereka putuskan, maka peluang siswa untuk mendapatkan hasil ujian sesuai harapan mereka akan semakin besar untuk dapat diwujudkan.
Manajemen waktu, masalah mendasar bagi semua orang, tak
terkecuali bagi
seorang siswa yang akan menghadapi ujian sekolah. ”Berapa banyak waktu yang
harus saya luangkan untuk mempelajari lebih dalam topik materi yang hendak
diujikan?; Saya merasa lebih menikmati belajar antara jam 4 – 5 pagi, apakah
ini ’jam biologis belajar’ saya?”
seorang siswa yang akan menghadapi ujian sekolah. ”Berapa banyak waktu yang
harus saya luangkan untuk mempelajari lebih dalam topik materi yang hendak
diujikan?; Saya merasa lebih menikmati belajar antara jam 4 – 5 pagi, apakah
ini ’jam biologis belajar’ saya?”
Strategi metakognitif menyampaikan satu pesan khusus bagi
siapa pun yang
ingin menjalani hidup secara efektif, bahwasanya kenyataan hidup yang terjadi
pada saat ini adalah akibat dari pilihan-pilihan hidup kita di masa lampau.
Hari ini kita jadi orang sukses, hari ini kita jadi orang gagal, bahkan hari
ini sekalipun kita jadi orang bingung dengan kelebihan dan kekurangan diri kita,
maka hal itu diakibatkan oleh lemahnya diri kita dalam merancang kehidupan
kita, memantau kualitas perkembangan kehidupan kita, menilai kesuksesan hidup
kita, serta mengubah sikap hidup kita jika perlu untuk mencapai level kualitas
hidup yang lebih baik. Inspirasi utama ini sebenarnya yang perlu ditanamkan
kepada siswa kita agar menjadi seorang pembelajar mandiri dan pemecah masalah
kehidupan yang handal.
ingin menjalani hidup secara efektif, bahwasanya kenyataan hidup yang terjadi
pada saat ini adalah akibat dari pilihan-pilihan hidup kita di masa lampau.
Hari ini kita jadi orang sukses, hari ini kita jadi orang gagal, bahkan hari
ini sekalipun kita jadi orang bingung dengan kelebihan dan kekurangan diri kita,
maka hal itu diakibatkan oleh lemahnya diri kita dalam merancang kehidupan
kita, memantau kualitas perkembangan kehidupan kita, menilai kesuksesan hidup
kita, serta mengubah sikap hidup kita jika perlu untuk mencapai level kualitas
hidup yang lebih baik. Inspirasi utama ini sebenarnya yang perlu ditanamkan
kepada siswa kita agar menjadi seorang pembelajar mandiri dan pemecah masalah
kehidupan yang handal.
BAB
III
PENUTUP
A.
Simpulan
Pengertian metakognitif adalah suatu kesadaran
tentang kognitif kita sendiri, bagaimana kognitif kita bekerja serta bagaimana
mengaturnya. Kemampuan ini sangat penting terutama untuk keperluan efisiensi
penggunaan kognitif kita dalam menyelesaikan masalah. Secara ringkas
metakognitif dapat diistilahkan sebagai “thinking about thingking”.
Perkembangan
metakognitif adalah siswa mampu memilih, menggunakan, dan memonitor
strategi-strategi kognitif yang cocok dengan tipe belajar, gaya berpikir, dan
gaya kognitif yang dimiliki dalam mengahadapi tugas-tugas kognitif.
Strategi
mengembangkan metakognitif mengidentifikasi, berbicara tentang berpikir,
membuat jurnal berpikir, melaporkan hasil berpikir, evaluasi diri.
B. Saran
Sebagai para calon guru hendaknya kita benar-benar
profesional dalam disiplin ilmu yang kita kuasai sehingga dapt
menularkan pengetahun kepada anak didik dengan baik. Kemampuan dan ketrampilan
bahasa yang kita miliki tidak hanya menuntut untuk menguasai teori
semata tetapi juga menuntut kita mampu untuk mencontohkan dalam bentuk
karya-karya nyata khususnya pada materi yang memerlukan praktik nyata.
DAFTAR PUSTAKA

0 komentar:
Posting Komentar