RSS
Write some words about you and your blog here

makalah PENDEKATAN PEMBELAJARAN DITINJAU FARI SUDUT PSIKOLOGI



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Proses pendidikan merupakan hal yang sangat kompleks, yang didalamnyaterlibat banyak unsur yang saling terkait, mulai dari guru, siswa, sarana, metode,strategi, media dan lain-lain. Pendidikan bukan saja bicara tentang hasil, tapi lebihkompleks lagi, sebenarnya pendidikan berkaitan dengan bagaimana proses untukmencapai hasil. Sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusiayang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,cakap, kretif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dari sini terlihat bahwa ada banyak tujuan yang ingin dicapai dengan berlangsungnya proses pendidikan yang diwujudkan dari pembelajaran di kelas.
Proses pembelajaran di kelas melibatkan guru sebagai pengajar dan siswa sebagai pelajar. Seiring dengan pesatnya perkembangan pendidikan, pendidikanIndonesia saat ini menginginkan pembelajaran yang menempatkan guru tidak lagisepenuhnya sebagai sumber dari segala sumber belajar, namun guru diharapkanmenjadi fasilitator bagi proses belajar siswa. Siswa tidak lagi mencawan akan apayang disampaikan guru, tapi sebaliknya siswa sebagai individu aktif.


B.     Rumusan Masalah

1. Bagaimana konsep psikologi behaviorisme?
2. Bagaimana konsep psikologi kognitivisme?
3. Bagaimana konsep psikologi terapan?
4. bagaimana konsep psikologi humanitisme?
5. Bagaimana konsep psikologi kognitivisme?

C.          Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini secaraumum adalah untuk menjelaskan Teori-teori Belajar dalam Perspektif Psikologi.Sedangkan tujuan khususnya adalah:
1. Menguraikan Prinsip Dasar dan Konsep Psikologi Behaviorisme
2. Menguraikan Prinsip Dasar dan Konsep Psikologi Kognitifisme
3. Menguraikan Prinsip Dasar dan Konsep Psikologi Terapan
4. Menguraikan Prinsip Dasar dan Konsep Psikologi Humanisme
5. Menguraikan Prinsip Dasar dan Konsep Psikologi Konstruktivisme

D.    Manfaat Penulisan

Semoga dengan makalah ini dapat menjadi menjadi penambah khasanah ilmiah sebagai bekal menghadapi perkembangan zaman yang menuntut sumber daya manusia yang handal baik dalam bidang skill dan pengetahuan, serta professional dalam bidangnya. Orang yang mau menulis maka dapat mengetahui dimana sisi kelemahan dari hasil karya tulis yang dibuatnya. Sehingga, dapat memperbaikinya serta menambah pengetahuan bagi penulis sendiri.






BAB II
PEMBAHASAN

PENDEKATAN PEMBELAJARAN DITI NJAU DARI SUDUT PSIKOLOGI


A.    Konsep Pendekatan Pembelajaran
Konsep pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).
Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu :
1.      Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
2.      Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
3.      Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
4.      Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.


a.     Teori Pendekatan Pembelajaran Tingkah laku (Behaviorisme)
Teori Behaviorisme adalah teori belajar yang menekankan pada hasil belajar dan tidak memperhatikan pada proses berpikir siswa. Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respons. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respons. Sebagai contoh, anak belum dapat berhitung perkalian.
Menurut teori ini yang terpenting adalah masuk atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respons. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respons dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak bisa diamati. Faktor lain yang juga dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement) penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respons. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respons akan semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement) respons pun akan tetap dikuatkan (Suryabrata, 1990).
Misalnya, ketika peserta  didik di beri tugas oleh guru. Ketika tugasnya ditambahkan,  maka ia akan semakin giat belajarnya. Maka penambahan tugas tersebut merupakan penguatan positif (positif reinforcement) dalam belajar. Bila tugas-tugas dikurangi dan pengurangan ini justru meningkatkan aktifitas belajarnya, maka pengurangan tugas merupakan penguatan negatif (negative reinforcement) dalam belajar. Jadi penguatan merupakan suatu bentuk stimulus yang penting  diberikan atau dihilangkan untuk memungkinkan terjadinya respons.


Masing-masing tokoh memberikan pandangan tersendiri tentang apa dan bagaimana behavoristik tersebut,yaitu:

1.      Teori Pengkondisian Klasikal dari Pavlov
Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang diinginkan. Kemudian Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing) karena ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia. Namun demikian, dengan segala kelebihannya, secara hakiki manusia berbeda dengan binatang.
Ia mengadakan percobaan dengan cara mengadakan operasi pipi pada seekor anjing. Sehingga kelihatan kelenjar air liurnya dari luar. Apabila diperlihatkan sesuatu makanan, maka akan keluarlah air liur anjing tersebut. Kini sebelum makanan diperlihatkan, maka yang diperlihatkan adalah sinar merah terlebih dahulu, baru makanan. Dengan sendirinya air liurpun akan keluar pula. Apabila perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, maka pada suatu ketika dengan hanya memperlihatkan sinar merah saja tanpa makanan maka air liurpun akan keluar pula. Melalui eksperimen tersebut Pavlov menunjukkan bahwa belajar dapat mempengaruhi perilaku seseorang.

2.      Teori Koneksionisme Thorndike
Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ). Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon dari adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Dalam eksperimennya, Thorndike menggunakan kucing. Dari eksperimen kucing lapar yang dimasukkan dalam sangkar (puzzle box) tersebut diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons, perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha –usaha atau percobaan-percobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu. Bentuk paling dasar dari belajar adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi.

3.      Teori Conditioning Watson
Watson merupakan seorang behavioris murni. Kajian Watson tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperti fisika atau biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh dapat diamati dan diukur. Menurut Watson, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respons. Dalam hal ini, stimulus dan respons yang dimaksud dibentuk dari tingkah laku yang dapat diamati (observabel) dan dapat diukur. Watson mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar dan ia menganggap hal-hal tersebut sebagai faktor yang tak perlu diperhitungkan.

4.      Teori Systematic Behavior Clark Hull
Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respons untuk menjelaskan pengertian tentang belajar. Dalam hal ini, ia sangat terpengaruh oleh teori evolusi yang dikembangkan oleh Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga kelangsungan hidup manusia. Oleh sebab itu, teori Hull mengatakan bahwa kebutuhan biologis dan pemenuhan kebutuhan biologis adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia. Sehingga stimulus dalam belajar pun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respons yang mungkin akan muncul dapat bermacam-macam bentuknya. Dalam kenyataannya, teori-teori demikian tidak banyak digunakan dalam kehidupan praktis, terutama setelah Skinner memperkenalkan teorinya. Hingga saat ini, teori Hull masih sering dipergunakan dalam berbagai eksperimen di laboratorium.

5.      Teori Conditioning Edwin Guthrie
Demikian halnya dengan Edwin Guthrie, ia juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respons untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Menurut Edwin, stimulus tidak harus berhubungan dengan kebutuhan atau pemuasan biologis sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Clark dan Hull. Dalam hal ini, hubungan antara stimulus dan respons cenderung hanya bersifat sementara. Oleh sebab itu, dalam kegiatan belajar perlu diberikan sesering mungkin stimulus agar hubungan antara stimulus dan respons bersifat lebih tetap. Ia juga mengemukakan agar respons yang muncul sifatnya lebih kuat dan bahkan menetap, sehingga diperlukan berbagai macam stimulus yang berhubungan dengan respons tersebut. Guthrie juga percaya bahwa hukuman(punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu merubah kebiasaan dan perilaku seseorang. Setelah Skinner mengemukakan dan mempopulerkan pentingnya penguatan (reinforcement) dalam teori belajarnya, sehingga hukuman tidak lagi dipentingkan dalam belajar.

6.      Teori Operant Conditioning Skinner
Konsep-konsep yang dikemukakan oleh Skinner tentang belajar mampu mengungguli konsep-konsep lain yang dikemukakan oleh para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana dan dapat menunjukkan konsepnya tentang belajar secara komprehensif. Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respons yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang digambarkan oleh para tokoh sebelumnya.
Oleh sebab itu, untuk memahami tingkah laku seseorang secara benar perlu terlebih dahulu memahami hubungan antara stimulus satu dengan lainnya, serta memahami respons yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin akan timbul sebagai akibat dari respons tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa, dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah. Sebab, setiap alat yang dipergunakan perlu penjelasan lagi, demikia  seterusnya. Dari semua pendukung Teori behavioristik, Teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berpogram, modul, dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program-program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan oleh Skinner.
Adapun keunggulan dan kelemahan mengenai teori behaviorisme diantaranya :

Keunggulan Teori Behaviorisme
1)   Teori ini cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.
2)   Membiasakan guru untuk bersikap jeli dan peka pada situasi dan kondisi belajar.

Kelemahan Teori Behaviorisme
1)   Pembelajaran siswa yang berpusat pada guru (teacher centered learning), bersifat mekanistik, dan hanya berorientasi pada hasil yang diamati dan diukur.
2)   Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. Penggunaan hukuman sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan siswa (teori skinner) baik hukuman verbal maupun fisik seperti kata – kata kasar, ejekan ,  jeweran yang justru berakibat buruk pada siswa.



 Aplikasi Teori Behaviorisme dalam Pembelajaran
Teori psikologi belajar yang sangat besar mempengaruhi arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah teori behaviorisme. Teori ini menekankan pada terbentuknya prilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behaviorisme dengan model hubungan stimulus-responsnya, mendudukkan yang belajar sebagai individu yang pasif. Respons atau prilaku tertentu dapat dibentuk karena dikondisi dengan cara tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya prilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman. 
Aplikasi teori behaviorisme dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti : tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi sehingga belajar adalah perolehan pendidikan. Sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar atau siswa. Siswa diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.

b.    Teori Pendekatan Pembelajaran Psikologi Kognitif
Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas. Dalam aliran kognitifisme terdapat beberapa ciri-ciri,diantaranya:
1.      Mementingkan apa yang ada dalam diri manusia
2.      Mementingkan keseluruhan dari pada bagian-bagian
3.      Mementingkn peranan kognitif
4.      Mementingkan kondisi waktu sekarang
5.      Mementingkan pembentukan struktur kognitif
Belajar kognitif ciri khasnya terletak dalam belajar memperoleh dan mempergunakan bentuk-bentuk reppresentatif yang mewakili obyek-obyek itu di representasikan atau di hadirkan dalam diri seseorang melalui tanggapan, gagasan atau lambang, yang semuanya merupakan sesuatu yang bersifat mental, misalnya seseorang menceritakan pengalamannya selama mengadakan perjalanan keluar negeri, setelah kembali kenegerinya sendiri. Tampat-tempat yang dikunjuginya selama berada di lain negara tidak dapat diabawa pulang, orangnya sendiri juga tidak hadir di tempat-tempat itu. Pada waktu itu sedang bercerita, tetapi semulanya tanggapan-tanggapan, gagasan dan tanggapan itu di tuangkan dalam kata-kata yang disampaikan kepada orang yang mendengarkan ceritanya.
Selain itu ada beberapa tokoh yang memaparkan pandangannya mengenai teori kognitifisme,diantaranya:
1.      Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Jean Piaget.
Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan. Menurut Piaget, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru.  Guru  hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.
Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak; Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya; Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing; Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.

2.      Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Bruner.
Berbeda dengan Piaget, Burner melihat perkembangan kognitif manusia berkaitan dengan kebudayaan. Bagi Bruner, perkembangan kognitif seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan kebudayaan, terutama bahasa yang biasanya digunakan.
Menurut Bruner untuk mengajar sesuatu tidak usah ditunggu sampai anak mancapai tahap perkembangan tertentu. Yang penting bahan pelajaran harus ditata dengan baik maka dapat diberikan padanya. Dengan lain perkataan perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan dengan jalan mengatur bahan yang akan dipelajari dan menyajikannya sesuai dengan tingkat perkembangannya. Penerapan teori Bruner yang terkenal dalam dunia pendidikan adalah kurikulum spiral dimana materi pelajaran yang sama dapat diberikan mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan tinggi disesuaikan dengan tingkap perkembangan kognitif mereka. Cara belajar yang terbaik menurut Bruner ini adalah dengan memahami konsep, arti dan hubungan melalui proses intuitif kemudian dapat dihasilkan suatu kesimpulan. (discovery learning).
Implikasi Teori Bruner dalam Proses Pembelajaran : Menghadapkan anak pada suatu situasi yang membingungkan atau suatu masalah; anak akan berusaha membandingkan realita di luar dirinya dengan model mental yang telah dimilikinya; dan dengan pengalamannya anak akan mencoba menyesuaikan atau mengorganisasikan kembali struktur-struktur idenya dalam rangka untuk mencapai keseimbangan di dadalam benaknya



3.      Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Ausubel,
Proses belajar terjadi jika siswa mampu mengasimilasikan pengetahuan yang dimilikinya dengan pengetahuan baru.
Proses belajar terjadi melaui tahap-tahap:
1)      Memperhatikan stimulus yang diberikan.
2)      Memahami makna stimulus menyimpan dan menggunakan informasi  yang sudakm h dipahami.
Menurut Ausubel siswa akan belajar dengan baik jika isi pelajarannya didefinisikan dan kemudian dipresentasikan dengan baik dan tepat kepada siswa (advanced organizer), dengan demikian akan mempengaruhi pengaturan kemampuan belajar siswa. Advanced organizer adalah konsep atau informasi umum yang mewadahi seluruh isi pelajaran yang akan dipelajari oleh siswa. Advanced organizer memberikan tiga manfaat yaitu :Menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi yang akan dipelajari. Berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara yang sedang dipelajari dan yang akan dipelajari. Dapat membantu siswa untuk memahami bahan belajar secara lebih mudah.

Kelebihannya yaitu : menjadikan siswa lebih kreatif dan mandiri; membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah.
Kekurangannya yaitu : teori tidak menyeluruh untuk semua tingkat pendidikan; sulit di praktikkan khususnya di tingkat lanjut; beberapa prinsip seperti intelegensi sulit dipahami dan pemahamannya masih belum tuntas.

Aplikasi teori kognitifisme dalam pembelajaraan
Aplikasi teori belajar kognitivisme dalam pembelajaran yaitu guru harus memahami bahwa siswa bukan sebagai orang dewasa yang mudah dalam proses berpikirnya, anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar belajar menggunakan benda-benda konkret, keaktifan siswa sangat dipentingkan, guru menyusun materi dengan menggunakan pola atau logika tertentu dari sederhana kekompleks, guru menciptakan pembelajaran yang bermakna, memperhatian perbedaan individual siswa untuk mencapai keberhasilan siswa.

c.      Teori Pendekatan Pembelajaran Psikologi Terapan  (Applied Approach)
Pendekatan terapan dikembangkan berpijak pada hasil analisis kebutuhan lapangan sehubungan dengan desakan masyarakat yang segera untuk meningkatkan output Lembaga Pendidikan  Tinggi.  Sampai pada akhir tahun 1992, kebanyakan Perguruab Tinggi di Indonesia, telah mengadakan penataran pendekatan terapan segenap staff dosennya secara bergiliran dan bergelombang, sementara dosen-dosen dilapangan, sementara dosen-dosen di lapangan telah menjadi resisten(melawan) terhadap inovasi-inovasi di bidang pembelajaran yang sedang dan telah berjalan.    
Pendekatan ini didasarkan atas asumsi bahwa setelah melalui pengalaman belajar selama lokakarya, para peserta dapat  menerapkan prinsip dan prosedur pengembangan aktivitas belajar mengajar untuk setiap mata kuliah yang diampunya/diajarnya.  Pengalaman di lapangan menunujukkan bahwa implementasi inovasi di jenjang Pendidikan Tinggi umumnya diikuti oleh kendala waktu, biaya,  kemampuan.  Adapun landasan pijak pendekatan terapan tersebut adalah teori belajar “Galperin” yang mendeskripsikan belajar sebagai upaya untuk mendapatkan pengetahuan melalui empat tahapan kegiatan yang saling berkaitan, yaitu orientasi, latihan, umpan balik, dan fase lanjutan.
Sehubungan dengan adanya fase  belajar tersebut, maka dengan sendirinya ada empat fungsi pembelajaran yang harus dilaksanakan sesuai dengan tahapan belajar itu, yakni:
1. Memberikan orientasi tentang materi
2. Memberikan kesempatan untuk berlatih dan menerapkan materi  yang dibahas pada tahapan orientasi, kemudian diikuti
3.  Memberikan pengertian tentang hasil belajar yang telah dicapai dalam proses, belajar yang dilakukan dan
4.   Memberi kesempatan melanjutkan latihan.
Adapun pendekatan terapan, secara konseptual memiliki keunggulan dalam hal ini pengembangan kemampuan strategi kognitif yang terikat pada pola struktur prosedural dan sistem tertentu, serta ketrampilan berjenjang.

d. Teori Pendekatan Pembelajaran Psikologi Humanistik
1. Konsep dan Asumi Dasar
Pada teori Humanistik ini, proses belajar harus berhulu dan bermuara padamanusia itu sendiri. Dari beberapa teori belajar, teori inilah yang paling abstrak danmendekati dengan dunia filsafat daripada dunia pendidikan.
Meskipun teori ini sangat menekankan pentingnya “isi” dari proses belajar, dalam kenyataanya teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada belajar seperti apaadanya, seperti apa yang kita amati dalam dunia keseharian. Belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri. Meskipun teoriini sangat menekankan pentingya isi dari proses belajar, dalam kenyataan teori inilebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada belajar seperti apa adanya, seperti apa yang bisa kita amati dalam dunia keseharian.
Teori belajar humanisme dalam pendidikan lebih menekankan pada perkembangan positif. Pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untukmencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkankemampuan tersebut. Hal ini mencakup kemampuan interpersonal sosial dan metodeuntuk pengembangan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri, menikmatikeberadaan hidup dan juga masyarakat. Keterampilan atau kemampuan membangundiri secara positif ini menjadi sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannyadengan keberhasilan akademik. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agarlambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajarini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan darisudut pandang pengamatnya dan bias dikatakan memanusiakan manusia.

2. Tokoh-tokoh Utama.
1). Arthur Combs
 Arthur Combs et al. (1974) menjelaskan bagaimana perserpsi ahli-ahli psikologi dalam memandang tingkah laku. Untuk mengerti tingkah laku manusia,yang terpenting adalah mengerti bagaimana dunia ini dilihat dati sudut pandangannya. Salah satu dari pandangan Humanistik adalah perasaan, persepsi, kepercayaan,dan tujuan tingkah laku inner ( dari dalam) yang membuat orang berbeda dari oranglain. Untuk mengerti orang lain, adalah melihat dunia sebagai dia lihat, dan untukmenentukan bagaimana orang berpikir, merasa tentang dia atau tentang dunianya. Combs menyatakan bahwa tingkah laku menyimpang adalah “akibat yang tidak ingin dilakukan, tetapi dia tahu bahwa dia harus melakukan”.
2). Maslow
Maslow (1968) berpendapat bahwa ada hierarki kebutuhan manusia. Kenutuhanuntuk tingkat yang paling rendah, yaitu untuk bisa survive atau mempertahankanhidup dan rasa aman, dan ini adalah kebutuhan yang paling penting. Tetapi, jikamanusia secara fisik terpenuhi kebutuhannya dan merasa aman, ,ereka akan distimuliuntuk kebutuhan yang lebih tinggi lagi, yaitu kebutuhan untuk memiliki dan dicintaidan kebutuhan akan harga diri dalam kelompok itu terpenuhi orang akan kembalimencari kebutuhan yang lebih tinggi lagi, prestasi intelektua;, penghargaan estetisdan akhirnya self-actualization.
3). Rogers
Rogers (1969,1983) adalah ahi psikologi humanistik yang mempunyai ide-ideyang mempengaruhi pendidikan dan penerapannya. Melalui bukunya yang sangat popular Freedom to Learn and Freedom to Learn for the 80’s, dia menganjurkan pendekatan pendidikan sebaiknya mencoba membuat belajar dan mengajar lebihmanusiawi, lebih personal, dan berarti.Pendekatan Rogers dapat dimengerti dari prinsip-prinsip penting belajar Humanistik yang diidentifikasikan sebagai sentral dan filsafat pendidikannya.

3.      Pengaplikasian dalam Belajar Pembelajaran
Satu strategi yang disarankan rogers adalah memberi siswa dengan berbagaimacam sumber yang dapat mendukung dan membimbing pengalaman belajar mereka.Sumber-sumber meliputi materi pengajaran yang biasam seperti buku, bimbinganreferensi dan alat-alat bantu listrik (misalnya kalkulator, komputer). Sumber dapat juga meliputi oran, seperti anggota masyarakat yang mempunyai suatu bidang minatatau ahli yang bersedia mengungkapkan pengalaman-pengalaman kepada siswa.Guru-guru dapat juga sebagai sumber dengan pengetahuan dan pengalamanketerampilang yang tersedia yntuk siswa jika diperlukan.Strategi lain yang disarankan adalah perr-tutoring siswa yang mengajar siswalain. Banyak bukti yang menunjukkan bhwa pengalaman ini berguna untukkeduanya, siswa yang mengajar maupun yang diajar.Akhirnya, Rogers adalah pengajur yang kuat pada penemuan dan penyelidikan, di mana siswa mencari jawaban terhadappertanyaan yang riil, mrmbuat penemuan autonomus (bebas), dan menjadi pencetus dalam belajar atas inisiatifnyasendiri.




e.      Teori Pendekatan Pembelajaran Psikologi Konstruktivisme
1.      Konsep dan Asumi Dasar
Konstruktivisme sebagai filsafat belajar pertama kali sudah terungkap dalamtulisan ahli filsafat (Giambatista Visco, 1710) yang mengemukakan bahwa oranghanya dapat benar-benar memahami apa yang dikonstruksikannya sendiri yang pertama mengembangkan dan mempopulerkan filsafat ini dalam pembelajaranadalah Jean Piaget.
 Ide dasar lahirnya filsafat belajar konstruktivisme merupakan kritik terhadapteori belajar Behaviorisme yang sangat mendominasi pada waktu itu. Secara umummenurut teori Behaviorisme, orang yang belajar adalah orang yang belummemiliki pengetahuan tentang sesuatu, oleh sebab itu para pengajar harus dapat mentransfer pengetahuan kepada orang yang belajar. Namun, dari beberapa hasil penelitian pendidikan sains pada tahun-tahun terakhir telah mengungkapkan bahwa pengetahuanitu dibangun dalam pikiran seseorang. Pandangan terakhir inilah yang dianut olehkonstruktivisme. Maka proses pendidikan dalam pandangan ini perlu membangunkemandirian anak untuk mengelola pola pikir secara terarah.Asumsi dasar teori konstruktivisme tentang belajar adalah bahwa setiaporang pada dasarnya sudah memiliki pengetahuan atau bekal awal tentang sesuatu yangakan dipelajari. Pembelajaran pada intinya adalah bagaimana mengembangkan ataumengkonstruksi (membangun) pengetahuan atau bekal awal yang sudah dimilikitersebut menjadi sebuah pengetahuan baru dan utuh. Hal ini sejalan dengan pendapatYatim Riyanto yang mengatakan bahwa tujuan pembelajaran konstruktivismeditentukan pada bagaimana belajar, yaitu menciptakan pemahaman baru yangmenuntut aktivitas kreatif produktif dalam konteks nyata yang mendorong si belajaruntuk berfikir dan berfikir ulang lalu mendemostrasikannya.
Asumsi-asumsi dasar dari kontruktivisme seperti yang diungkap oleh Merril(1991) adalah sebagai berikut :
1)      Pengetahun di kontruktiviskan oleh pengalaman.
2)      Belajar adalah penafsiran personal tentang dunia nyata.
3)      Belajar adalah sebuah proses aktif, dimana makna dikembangkan berdasarkan pengalaman.

2.      Tokoh-tokoh Utama
Istilah konstruktivisme sendiri sebenarnya sudah dapat dilacak dalam karyaBartlett (1932), kemudian juga Mark Baldwin yang secara lebih rinci diperdalam olehJean Piaget, kemudian konsep belajar ini disebarluaskandi Amerika Utara (meliputiAmerika Serikat dan Kanada) oleh Ernest Von Glasersfeld. Namun, konsep terkaitdengan konstruktivisme (walau saat itu belum mempergunakan istilahkonstruktivisme) bahkan sudah diungkap oleh Giambattista Vico pada tahun 1710, yang mengatakan bahwa ”mengetahui berarti mengetahui bagaimana membuatsesuatu”
Ini berarti bahwa seseorang itu dapat dikatakan mengetahui sesuatu, baru jika ia dapat menjelaskan unsurunsur apa yang membangun sesuatu itu, mungkin beberapa kali da nada penerimaan dalam struktur kognitifnya, sebagai hasil proses berpikirnya (proses of mind) tentang apa sesungguhnya sesuatu itu. Jadi sesuatu itutelah diketahuinya karena telah dikonstruksikan dalam pikirannya. Sementara itusejumlah ahli lain berpendapat bahwa kontrktivisme sebagai salah satu bentuk pragmatisme, oleh sebab itu dapat dima’lumi jika tokoh pra gmatism, John Deweyyang terkenal dengna konsep belajar dengna melakukan ( learning by doing ), dikategorikan sebagai ahli pendukung kontruktivisme..

3.      Pengaplikasian dalam Belajar Pembelajaran
Dalam teorinya, konstruktivisme menuntut peran guru agar mampumenyediakan suasana dimana para siswa mendisain dan mengarahkan kegiatan belajar itu lebih banyak dari pada mengiginkan siswa agar benar-benar memahamidan dapat menerapkan pengetahuan. Oleh sebab itu harus dapat diupayakanbagaimana siswa dapat bekerja memecahkan masalah, menentukan segala sesuatuuntuk dirinya sendiri, serta berusaha dengan ide-ide. Salah satu peran penting gurudalam mengajar adalah bagaimana memberikan siswa anak tangga yang membawasiswa kepemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri harus memanjatanak tangga tersebut.
Dengan demikian, mengajar bukanlah memindahkan pengetahuan dari pendidikke peserta didik, tetapi suatu kegiatan yang memungkinkan peserta didik membangunsendiri pengetahuannya. Mengajar berarti berpartisipasi dengan peserta didik dalammembentuk pengetahuan, membuat makna, mempertanyakan kejelasan, bersikapkritis, mengadakan justifikasi.


















BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
Pembelajaran pada intinya adalah bagaimana mengembangkan ataumengkonstruksi (membangun) pengetahuan atau bekal awal yang sudah dimilikitersebut menjadi sebuah pengetahuan baru dan utuh. Hal ini sejalan dengan pendapatYatim Riyanto yang mengatakan bahwa tujuan pembelajaran konstruktivismeditentukan pada bagaimana belajar, yaitu menciptakan pemahaman baru yangmenuntut aktivitas kreatif produktif dalam konteks nyata yang mendorong si belajar untuk berfikir dan berfikir ulang lalu mendemostrasikannya.

B.     Saran
Sebagai para calon guru hendaknya kita benar-benar profesional dalam disiplin ilmu yang kita  kuasai sehingga dapt menularkan pengetahun kepada anak didik dengan baik. Kemampuan dan ketrampilan bahasa yang kita miliki tidak hanya menuntut  untuk menguasai teori semata tetapi juga menuntut kita mampu untuk mencontohkan dalam bentuk karya-karya nyata khususnya pada materi yang memerlukan praktik nyata









DAFTAR PUSTAKA
Ratna Yudhawati, S.Psi., M.Psi.,Teori-teori Dasar Psikologi Pendidikan
PT Prestasi Pustakarya, Jakarta, 2011Dra. Eveline Siregar, Mpd. Teori Belajar dan Pembelajaran
GhaliaIndonesia, Bogor, 2011Dr. Hamzah B. Uno, M.Pd.,Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran
      Syah, Muhibbin. 2002. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Hamzah B. Uno. 2006. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.


0 komentar:

Posting Komentar